Wayang Sasak dan Nasib Pelestariannya

MESKIPUN harus bersaing dengan tayangan hiburan di televisi hingga pentas musik, pagelaran wayang kulit masih menjadi tontonan yang menarik dan ditunggu-tunggu bagi sebagian besar masyarakat di pulau Lombok, NTB. Mereka bahkan rela begadang hingga pagi untuk menikmati kisah-kisah pewayangan.

Sayang, kepedulian para pihak yang tidak mendukung proses regenerasi, membuat sulit menemukan bibit-bibit dalang; orang paling ”penting” dalam sebuah pagelaran wayang kulit.

Sebagai dalang wayang kulit, nama Lalu Nasip sangat dikenal di pulau Lombok, dan NTB pada umumnya. Mulai dari pedesaan di pelosok Lombok Timur, hingga di keramaian Kota Mataram, Lalu Nasip bukan nama yang asing bagi masyarakat termasuk sopir taksi dan pengojek. Itu juga yang membuat sangat mudah menemukan kediamannya di Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

”Semua orang pasti tahu mamiq Lalu Nasip (Mamiq dalam bahasa Sasak; sebutan untuk pria yang dihormati atau dituakan). Kalau gubernur atau bupati belum tentu semua kenal namanya,” kata Rasinah Majid, seorang tourist guide yang biasa mempromosikan budaya Lombok.

Majid mengatakan, sebuah acara syukuran yang digelar masyarakat akan lebih bermaka jika dalam undangan tertera turut mengundang pentas wayang Lalu Nasip.

”Kalau ada wayang Lalu Nasip, pasti yang datang ke acara itu bukan hanya undangan, tapi juga masyarakat lain Desa yang ingin nonton,” katanya.

Selain sebagai dalang pertama di Lombok yang menggagas gubahan bahasa wayang dari bahasa Jawa Kawi ke bahasa Sasak Lombok dan Indonesia, Lalu Nasip juga mendapat tempat di hati masyarakat karena humor-humor khasnya lewat tokoh-tokoh lucu dalam wayang.

Siang itu, ketika saya mengunjungi kediamannya, Lalu Nasip tengah memeriksa jadwal pentas di sebuah papan whiteboard berukuran 80cm yang digantung di teras rumah. Jadwal sangat padat, ada 12 acara tertera di situ, untuk pentas sepanjang bulan.

”Sekarang (saya) tidak sekuat dulu, jadi saya batasi hanya tiga kali pentas dalam seminggu. Banyak yang kecewa juga karena saya tolak,” kata Lalu Nasip.

Karakter suara Lalu Nasip berat dan agak serak, tawanya lepas dan lantang. Ia masih nampak fit di usia 63 tahun, walau kerap begadang.

Menurut Nasip, wayang kulit Sasak Lombok menjadi satu dari tiga kesenian wayang kulit di Indonesia, selain wayang kulit Jawa dan Bali.

Kisah utama atau pakem yang dipentaskan dalam wayang kulit Sasak ialah ”Srat Menak”, saduran dari hikayat Amir Hamzah cerita dari negeri Persia yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kawi oleh Yosodipuro II di zaman Kerajaan Mataram Islam. Kisahnya seputar perjalanan Nabi Muhammad SAW menyiarkan agama Islam pada masanya dahulu.

”Tapi karena tidak boleh memvisualisasi Nabi, maka tokoh yang digunakan ialah paman Nabi, Amir Hamzah. Dalam wayang Sasak ia dikenal dengan tokoh Umar Maya, dan Jayengrana atau raja Mekkah,” katanya.

Di Jawa, kisah Srat Menak sudah jarang dipentaskan, yang sering adalah Ramayana dan Mahabarata. Sementara di Bali, hanya Ramayana dan Mahabarata yang selalu dipentaskan.

Latar belakang keberadaan wayang kulit di Jawa, Bali dan Lombok pun berbeda. Menurut Nasip, wayang kulit Jawa berawal dari ide hiburan untuk para raja, dan di Bali, wayang awalnya digelar untuk sejumlah upacara ritual dan sakral. Sedangkan di Lombok, wayang pertama kali ada sebagai media dakwah Islam.

Sepengetahuan Lalu Nasib, kesenian wayang kulit masuk ke Lombok pada abad 17-18 silam. Awalnya dibawa oleh murid Sunan Kali Jaga sebagai media dakwah Islam di pulau Lombok bagian Utara.

”Dulu itu Lombok bagian Utara masih dipengaruhi animisme, ajaran Islam sulit masuk. Tapi dengan menggunakan media wayang kulit, pelan-pelan ajaran Islam bisa diterima masyarakat,” katanya.

Nasip mulai tertarik dengan wayang sejak kecil. Saat kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) di Lombok Barat tahun 1957, ia mulai mendalang kecil-kecilan bersama teman sebaya. Namun, karena orangtuanya kurang setuju jika Nasip menjadi dalang, kemudian lulus SR Nasip dipindahkan sekolah ke Sekolah Pelayaran Ampenan.

”Tujuannya agar saya jauh dari dunia wayang, tapi di sekolah palayaran itu saya malah bertemu teman sekelas yang anak dalang dari Yogyakarta. Wah, ilmu mendalang saya malah bertambah, saling tukar tanya dengan anak dalang itu,” katanya mengenang.

Setelah lulus sekolah, tahun 1969 Lalu Nasip kembali menekuni wayang kulit. Bersama teman-teman sekampungnya yang punya hobby sama, Nasip pun mulai berani pentas. Ia mendalang, sementara 10 rekannya membantu sebagai pemain musik iringan.

Awalnya ini berat. Sebab, yang menonton wayang kulit hanya para orangtua yang mengerti bahasa Jawa Kawi.
”Saat itu saya jadi bertanya-tanya, kenapa hanya orang tua yang suka. Anak muda nggak ada yang nonton. Selidik-selidik ternyata masalahnya di bahasa. Anak-anak muda banyak yang tidak mengerti bahasa Jawa Kawi dalam wayang. Sejak itu, saya mulai mengubah bahasanya, saya sisipi bahasa Sasak dan bahasa Indonesia setiap kali pentas,” katanya.

Diluar dugaannya, Wayang Kulit Sasak ”Gema Rinjani” yang didalanginya langsung mendapat tempat di hati masyarakat, termasuk kawula muda.

”Srat Menak” adalah pakem wayang kulit yang dipentaskan Lalu Nasip. Tapi, selain pakem wayang itu, ada juga sejumlah Kekawian atau Carangan hasil karya pujangga-pujangga Lombok. Ini semacam kisah-kisah lokal yang ditulis dengan lontar-lontar zaman dulu. Di sinilah Lalu Nasib bisa berekspresi melalui empat tokoh punakawan (Tokoh lucu wayang, seperti Bagong, Gareng dan Petruk dalam wayang Jawa). Empat tokoh punakawan Wayang Sasak yang selalu berhasil menghibur adalah Amaq Ocong, Amaq Amet, Amaq Baok, dan Inaq Itet.

Melalui empat tokoh itu pula, pagelaran wayang Lalu Nasip biasa digunakan sebagai sarana sosialisasi program pemeritahan. Mulai dari program Keluarga Berencana (KB) hingga masalah TKI.

”Dulu tahun 1990-an KB itu sulit sekali masuk ke Desa Mamben Lombok Timur, terus saya pentas disana dan mulai sosialisasi lewat wayang. Ya saya gambarkan sederhana saja, misalnya Amaq Ocong punya 12 anak dan Amaq Baok punya 2, eh yang sukses justru yang sedikit anaknya. Ini efektif, karena masyarakat saat itu masih berpikir banyak anak banyak rejeki,” katanya.

Kritik dan pesan moral juga bisa bebas disampaikan lewat tokoh punakawan ini. Menurut Nasip ia bisa mengkritik pemerintah atau oknum pejabat yang kurang baik kinerjanya.

”Tapi dalam wayang juga ada kode etik, kita nggak boleh sebut nama dan jabatan. Ya bisa saja Amaq Ocong jadi Bupati, atau Amaq Baok jadi Gubernur,” katanya.

Pentas wayang Lalu Nasip selalu dimulai pukul 10 malam, dan biasanya berakhir hingga menjelang subuh. Selalu saja keramaian tercipta dan banyak juga yang mendapat rejeki, misalnya pedagang bakso, PKL, hingga pedagang mainan anak-anak yang membuka dagangannya di dekat lokasi pentas wayang.

Kepiawaian Lalu Nasib mendalang dan kegigihannya melestarikan wayang Sasak membuat ia menerima sejumlah penghargaan. Yang paling berkesan adalah hadiah dari Bina Graha di zaman presiden Suharto tahun 1981 silam.
”Saya disuruh pilih, mau jalan keliling dunia atau naik Haji. Ya saya pilih naik haji,” katanya.

Lalu nasip, Dalang Wayang Sasak

Lalu nasip, Dalang Pelestari Wayang Sasak

Sejak tahun 1980-an nama Lalu Nasip makin dikenal luas. Beberapa kali ia pentas di TMII, hingga di Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Papua.

Sejumlah pihak pun ingin belajar. Sebut saja seorang mahasiswi Jepang bernama Masumi yang belajar selama tiga bulan di tahun 1992. Selama itu, ia hanya mempelajari Anta Wacana, atau kalimat ucapan yang dilantunkan dalang sebelum wayang keluar.

Nasip juga menjadi salah satu tokoh seni yang ditulis dalam buku ”Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan; Perubahan dalam Perwujudan, Isu, dan Profesi” yang ditulis oleh Philips Yamspolsky, sebagai hadiah Ultah Ford Foundation ke 50, terbitan tahun 2003.

”Sampai sekarang, ada juga pecinta wayang Dr Walter Angz, dari Jerman. Dia dokter hewan, tapi punya koleksi perangkat wayang. Masih sering datang setiap bulan Januari,” katanya.

Meski wayang Sasak masih bisa lestari dan nama besar sebagai dalag sudah dimilikinya, Nasip mengaku masih ada ganjalan. Ia khawatir wayang Sasak bakal punah, kelak jika ia sudah tak lagi mendalang.

”Kalau di Jawa dan Bali itu, anak-anak bisa mengenal wayang sejak kecil. Dari nama-nama jalan, nama toko, dan nama bus, banyak yang nama wayang. Di Lombok ini tidak ada. Anak-anak baru mengenal wayang kalau ada tontonan wayang,” katanya.

Ia berharap wayang Sasak bisa dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal. Ia juga berharap Pemda agar memikirkan membangun sekolah kesenian, yang didalamnya mengajarkan seni pewayangan.

Nasip mengatakan, di Jawa dan Bali, anak-anak yang punya bakat seni pewayangan bisa mudah mendapatkan sekolah seni, karena tersedia mulai yang setingkat SMP hingga SLTA.

”Di Lombok ini tidak ada sekolah seni. Anak yang punya bakat seni akhirnya melanjutkan sekolah ke Bali atau Jawa, tapi yang dipelajari ya kesenian Bali dan Jawa, ketika kembali ke Lombok mereka justru mahir menari Bali dan Tari Jawa. Begitu juga wayang, di Jawa dan Bali tidak ada pelajaran pakem wayang Sasak,” katanya. Program visit Lombok Sumbawa 2010 dan program wisata lainnya di NTB, menurut Nasip hanya sia-sia jika potensi yang ada tidak dilestarikan.

”Pemda promosi ke sana kemari hanya buang anggaran. Nanti mereka bilang di Lombok ada wayang sebagai kebudayaannya, tapi wisatawan pasti kecewa kalau datang ternyata wayang hampir punah,” keluhnya. Nasip memiliki enam orang anak dan enam orang cucu. Hanya satu cucunya yang punya bakat mendalang.

Bagi Lalu Nasip, wayang kulit bukan hanya sekadar pertunjukan kesenian semata. Menurut anggota Sekretariat Nasional Wayang Indonesia (Senawangi) ini, wayang kulit sarat dengan makna dan pesan moral.
Di dalam “Srat Menak” misalnya, ada pelajaran tentang kepemimpinan, tentang membina hubungan harmonis dalam keluarga, dan tentang pemerintahan. Menurutnya, semua pelajaran hidup ini ada di kisah wayang, apalagi tentang tata Negara, lengkap di sana .

Wayang ini ibarat miniatur kehidupan, papar Nasip. Apa yang ada di dunia ada dalam wayang. Bagaimana Tuhan mengatur kehidupan manusia, dan manusia menjalani takdir Tuhan, begitu juga wayang, dalang mengatur lakon wayang, dan wayang mengikuti aturan kehendak dalang.

“Sehebat apapun tokoh wayang, jika dalang tidak mengeluarkannya dalam pertunjukan maka tokoh itu hanya terkurung di peti saja. Begitu juga manusia, sehebat apapun dia, selalu saja akan tunduk pada aturan Tuhan,”katanya.

Nama besar Nasip juga pernah dilirik sebuah Parpol untuk menjadi calon DPR RI dalam Pemilu 2009 lalu. Ia juga pernah diminta mewakili salah satu calon Kepala Daerah di sebuah daerah Kabupaten di NTB dalam musim pilkada tahun 2010 lalu.

“Tapi saya menolak, saya ingin menjadi milik semua orang. Dengan menjadi dalang wayang, saya menjadi milik semua mulai dari pejabat sampai ke kaum miskin. Lagipula jadi rakyat kan tak akan pernah jadi mantan rakyat, kalau jadi pejabat pasti jadi mantan pejabat,” katanya.

Cerita Lalu Nasip menyadarkan kita bahwa ada banyak peninggalan seni dan budaya di Indonesia, termasuk di Lombok, sekaligus menyadarkan kita bahwa belum banyak yang serius untuk pelestariannya.

[Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/07/wayang-kulit-sasak-dan-ironi-pelestariannya/]

Leave a Reply