Traktat Ramadhan

Aku adalah setan
yang terbelenggu keindahan
Aku adalah iblis
yang terpenjara oleh keikhlasan
Aku adalah Ifrit
yang terkurung oleh kesepakatan
Aku sedang menanti
saat aku diberi kesempatan

Kau akan kenali aku
dalam jubah toean goeroe
Kau akan hormati aku
dalam seragam jabatan
Kau akan menari didepanku
saat aku serukan perdamaian
Kau akan tidur pulas saat
kujamin pasokan pangan

Kompor yang meletus
dan membunuh si jelata
Beras berulat dan bau tengik
dan nasi aking
Baju bekas impor
buangan dari jiran
Adalah proyek mercu suar
pemuja berhala

Paket hantarkan wanita
tanpa kepala
Peti mati terkunci
tanpa data
Harap dikubur
tanpa doa
Karena aku tak tahan
selalu dimurka

Mulailah berseru
datangnya bulan suci
Belenggulah aku
dalam jamaah
dengan perut mengunci
Teriaklah dengan nama tuhan
yang mana saja
Ada yang terjerembab
dalam tumpukan
harta terkunci

Jangan ragu bersamaku
dendangkan nyanyian sahwatmu
Tarikan nafsumu dengan liuk perut
dalam kemabukan semu
Inilah suarga bagimu
janji didalam kitab telah diseru
Tebarkan wangi kesenangan
dan jangan kau kesusu

Inilah bagianmu
dan bagianku
Kau lapar dan haus
dalam pengawasanku
Tiap detik kau akan bicara
kotor dengan mulut bau
Makin kau berdosa
makin besarlah aku

Lihat ke cermin besar
dibalik pintu
Ada wajah asli
yang tak perlu kau patut
Di belakangmu
gembira bayangan hantu
Dia kan mengawalmu
sampai  datang
maut menjemput.

Ayo janganlah engkau ragu
Jelata akan kuadu
antar dusun dan saudara
Kau akan disinggasana
selagi tiada rasa malu
Kau dan aku satu
dalam bingar suka cita

Traktat ini
dijempol darah
Yang terhisap
dari hati yang merah
Sesekali
harus kau abaiakan
Lalu samarkan
dibulan Ramadan

Leave a Reply