Sasak! Tugas, Pekerjaan dan Kewajiban – Filosofi Melayani

Anak saya ditanya oleh teman kuliahnya mengenai tugas pokok pada pekerjaan dan tanggung jawab atas pekerjaan. Apa sih bedanya?.

Sampai harus ambil S2 mereka tidak tahu atau belum pernah memikirkan hal itu. Saya beberpa kali mendapat komplain tentang pelayanan atau service hotel dan pemandu wisata di Yogyakarta, Bali dan Lombok.

Suatu hari ada sepasang tamu yang masuk hotel sesudah dinner di pantai. Hotelnya adalah salah satu yang termewah dan itu adalah malam pertama menginap disana untuk 2 minggu. Pada saat mobil masuk ke hotel, di belokan ada orang mengendarai sepeda motor menghalangi jalan dan saat sopir memintanya pergi dia melawan dan menabrakkan motornya serta memecahkan kaca mobil.

Kedua turis itu shock melihat kelakuan pemuda itu yang entah sedang mabuk arak atau apa. Keributan itu membuat sang turis memutuskan pulang ke negaranya. Mereka bilang, kami sudah tidak berselera lagi. Tapi pesawat tak ada sekarang kata si operator. No problem, kata si turis, kami charter pesawat peribadi, ayo ke bandara sekarang!.

Mereka pulang dan sudah pasti hancurlah nama kita dilingkaran pergaulan si korban. Setelah berbagai kejadian yang merugikan, siapa yang mau mengambil tanggung jawab?. Tidak ada, semua selesai sendiri.

Kasus perkosaan turis yang berjemur di pantai KT, hanya mengejutkan para pejabat yang banyak sekali menggemborkan proyek mercusuar dengan berbagai event yang memperkaya diri dan kelompoknya tapi tidak berdaya memberi solusi pada kejadian itu.

Disatu saat bergelora bicara ini itu setelah kenyang, pensiun lalu tua dan mati sebelum sempat bertobat dan memperbaiki keadaan.

Kita sedang bergiat menghadapi kompetisi global yang ada dalam khayalan yang sengaja dirancang oleh negara maju. Kita berjuang mengambil sertifikasi agar dapat bekerja profesioanal di dalam negeri atau di luar negeri.

Entah bagaimana mulanya tapi semua pekerjaan sekarang telah menuntut sertifikasi. Sudah lulus pelatihan berbulan bulan dan telah pula mengantongi ijazah dan pengalaman kerja memadai tapi masih harus mengikuti prosedur sertifikasi demi menjamin pekerjaan terlaksana dengan baik dan sempurna.

Sekarang kita melihat betapa banyaknya tenaga asing lenggang kangkung masuk ke berbagai bidang. Di hotel hotel besar ada tenaga asing yang direkrut hanya sebagai guest relation oficer alias humas atau penerima tamu. Alasannya orang kita tidak ada yang bisa mengisinya.

Waktu saya dilamar menjadi GRO disebuah hotel bintang 5 di zaman yang lalu saya langsung minta gaji 300 dolar, si GM yang orang asing itu tidak setuju!. Kalau orang asing berapa dia harus bayar?. Tentu berlipat lipat, tapi kalau saya yang dibayar mahal sedikit diatas orang Indonesia umumnya, pasti bikin iri atau heboh.
Rugi sekali jadi warga negara penuh inlander ini.

Kekacauan diberbagai bidang dalam urusan yang besar terus terjadi karena tidak adanya harmonisasi dan kordinasi antara satu orang disatu posisi dengan seseorang yang terkait diposisi lain pada departemen berbeda.

Kita punya banyak SDM mumpuni yang seharusnya menjadi motor penggerak sebuah revolusi industri ala abad XIX di Ingris tetapi mentalitas kita masih ditingkat manusia yang diperbudak oleh kebodohan dan nafsu memperoleh harta seketika.

Kepandaian punya keterbatasan sehingga kita pasti bisa meraihnya, bukankah batasnya jelas yaitu dimana logika tak lagi berperan?. Tetapi kebodohan yang tiada terbatas dipelihara karena berapapun kita berlari batasnya tak akan ada, jadi marilah terus bodoh, toh sudah banyak bangsa asing yang pintar yang mengurus serta mengeksploitasi kita yang bodoh ini. Lagi pula kita tidak suka yang rumit rumit dan susah susah.

Cukup makan sepiring terus tidur pulas. Nanti kalau ada pendatang membeli kapling disebelah kita dan membangun rumah mewah dan membeli mobil baru seperti membeli pelecing kangkung maka kita mulai uring uringan dan akhirnya bentrok saling menyerang sesama momot meco sampai mati berkelahi antar dusun.

Agama yang diajarkan kepada kita sejak umur 7 tahun dengan 5 pilar Islam yang harus dilaksanakan secara seksama dan disiplin ala militan ternyata hanya hiasan gula gula saja. Manis diluar tapi isinya busuk tak berbentuk.

Mula mula kita berkewajiban MEMBACA. Sebuah revolusi dari tidak tahu menjadi tahu lewat bacaan yang tertulis maupun yang tertera. Membaca di kitab dan membaca tanda alam. Kita mulai dengan referensi dalam setiap tindakan yang akan diambil dan mengolah fikir dalam menentukan hasil atau kesimpulan. Itu adalah dalil Aqli dan dalin Naqli.

Kalau sudah mampu menggunakan Aqli yang artinya akal, tepat, logis maka insyaallah akan selaras dengan Naqli yaitu dalil dalil syar’i di dalam Al Qur’an dan Assunnah. Dengan pengetahuan sehebat itu seharusnya seorang mukmin dapat hidup dengan sangat teratur, disiplin, indah dan harmonis.

Kekacauan berlarut larut dengan terjadinya penyimpangan disana sini bahkan cendrung korup dan stagnant dalam kubangan keterbelakangan adalah disebabkan sangat minimnya penggunaan akal dan dalil dalam menjalani kehidupan sehari hari.

Ketika menghadapi persoalan di masyarakat para pemangku kepentingan dan pejabat pemerintah mati kutu. Akhirnya masyarakat sendiri harus tertatih tatih menyelesaikan segala persoalan dengan cara masing masing.

Sebagian besar aparat kita tidak kompeten dan tidak mengetahui apalagi membedakan Tugas (assigment), Pekerjaan (task) dan Kewajiban (duty).

Ketiga hal itu harus dikuasai oleh seseorang yang menerima amanat sebagai seorang pejabat atau petugas pelaksana. Kita melaksanakan Tugas karena dipilih mengeksekusinya sebab kita dipandang mampu dan memenuhi syarat. Orang yang dapat melaksanakan tugas adalah orang yang berpengalaman atau memiliki ilmunya.

Pekerjaan adalah suatu aktifitas yang biasanya susah dilaksanakan, oleh sebab itu tiap orang mempunyai bidang berbeda dan tidak semua orang mampu mengeksekusinya. Orang ini adalah profesional. Kewajiban adalah apa yang secara hukum atau moral menyebabkan kita terikat dalam mengeksekusinya.

Kalau kita perhatikan dengan cermat, kegagalan disegala bidang itu sangat terkait dengan pemahaman pada Tugas, Pekerjaan dan Kewajiban. Satu orang yang mengerti agamanya dengan baik secara sadar dan otomatis menerapakan ketiga hal itu dalam fungsinya sebagai apapun.

Ketika dia mendapatkan suatu tugas maka ia melakukannya dengan segenap kemampuan sebagai seorang profesional dan bertangung jawab moral dunia dan akhirat. Itulah yang disebut dengan IBADAH!. Kegagalan pada memenuhi tugas, kerja dan kewajiban sangat terkait dengan pemahaman dan situasi moral seseorang.

Kegagalan memahami konsep konsep agama yang mendasarkan pada Membaca menggunakan dalil Aqli dan Naqli serta memilah skala prioritas dengan menerapkan hukum urgensi yang bisa Wajib, Sunnah, Makruh, Mubah,Halal atau Haram mengakibatkan kerancuan dalam mengambil keputusan.

Sesungguhnya, apabila kita semua tidak pusing pusing mencari pembenaran lewat berbagai teori rumit yang berdasarkan kepentingan tersembunyi, cukuplah modal dari pengajian diniyah reot di dusun terpencil, menjadi modal kita menyelamatkan diri dan anak bangsa serta alam lingkungan kita. Semua orang bisa hebat dan terperinci melakukan tugas dan pekerjaan tetapi belum tentu paripurna dalam kewajibannya.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply