Sasak! Tambang Empat Puluh – Sebuah Puisi

Gali dan terus sibakkan
setiap jengkal tanah dan batuan
hingga ke perut bumi
ambil dan kobarkan nafsu
dan gelorakan ambisi
kemenangan atas kesabaran
keikhlasan dan kedamaian

Barisan jamaah di rumah ibadah
besedekap
bersembah
menyalib
dan berserah diri
atau memuja
dan hilang
dalam asap nirwana
tidak bermakna…

Harta dan gelimang
segala
bukanlah berkah lagi
tetapi bencana dan malapetaka
kutukan
yang selalu telat dimengerti
sampai habis ingatan
habis kehidupan

Saat itu akan datang
tak perlu menggali
tak perlu berteriak
tak perlu meminta
sebaliknya menghiba
menolak
meronta
karena tak sanggup menjunjung
tambang perak dikepala
tambang emas digigi
tambang besi dilutut
tambang batu diginjal
tambang batu bara dihati
tambang timbal dikaki

Saat gas makin penuh di lambung
mungkin bisa dijajakan
pertiga kilo
Minyak pelumas
penuh didalam darah
mungkin dapat disuling
demi reboisasi
Kulit keriput mengasilkan lilin
Airmata berubah menjadi sulfur
Desah napas dapat menggerakkan turbin tenaga angin

Menggali bumi
hanya merusak tatanan dan harmoni
baiknya tunggu
hari dimana engkau mulai hidup
di Empatpuluh!

Hazairin R JUNEP

Komentar: tumben-tumbennya (saya melihat) mamiq June menulis puisi. Tampilan kata-kata yang anda lihat adalah versi editan. Versi aslinya bisa dilihat di Milis Komunitas Sasak.

Leave a Reply