Sasak! Ramadhan Terkejut Lagi

Hari penutupan Ramadan dikatakan sebagai hari kemenangan tetapi menang dari apakah?. Pertempuran yang manakah yang telah kita menangkan?.

Tiba tiba kita tersentak bahwa Ramadan berlalu dan kelak tersentak lagi karena ia nongol begitu saja dan kita terkejut lagi seperti di awal Ramadhan yang lalu.
Banyakkah yang sakit jantung dan mati karena terkejut, ya tentu saja semua yang mati jantungnya terhenti.

Kalau kita puasa ramadan sejak usia 6 tahun maka sudah berapa kali kita mengalami kejutan itu?.

Setiap kali berakhir kita saling mengucap sebagaimana Rasulullah SAW biasa mengucapkan: “Taqabbalallahu minna wa minkum” kepada para sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian (semua amalan kita di ramadan ini), dan oleh khusus orang Indonesia disambung dengan “Minal a’idin wal fa’izin”, yang maknanya adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali kepada fitrahnya dan semoga kita termasuk golongan yang menang melawan hawa nafsunya.

Berapa kali sudah hari penutupan ramadan berbeda jatuhnya disebabkan oleh ideology yang berbeda, seharusnya kita ikuti saja satu patokan dari Makkah yang bedanya hanya sekitar 3-4 jam dari waktu Indonesia Barat.

Kita tidak pernah bersepakat pada hal hal yang praktis dan dapat diperhitungkan dengan logika, bagaimana kita bersepakat dengan yang lebih rumit. Kalau ada orang muslim duduk bermusyawarah sedang mereka tidak lagi berpegang pada Al Qur’an dan Hadits melainkan ideology masing masing maka jangan harap akan ada kesepakatan.

Di tingakt dunia OKI hanya berkumpul dan pulang dengan cerita hampa, baik maslasah didalam negeri masing masing atau persoalan internasional tidak sanggup dipecahkan.

Palestina dipereteli, Afganistan di remuk redam, Irak diperkosa dan rakyatnya dibunuh, Libya dapat giliran di porak porandakan terus menerus sedangkan media yang dicangkokkan pada misi penyerbu menyiarkan sesuai dengan skenario dengan pengawasan ketat.

Meskipun kita tahu bahwa media telah terkooptasi dan banyak bohongnya kita juga tidak mencari tahu atau protes atas pembantaian saudara kita yang sesama muslim.

Masalah di dalam negeripun demikian, betapa banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang menderita gizi buruk sakit TBC dan anak putus sekolah, yang jadi korban penangkapan dengan tudahn teroris dan banyak lagi derita saudara kita yang lain di Papua yang tak pernah ditangani secara manusiawi, kita juga diam saja.

Kita telah menjadi manusia pasif selama 66 tahun menjadi bangsa Indonesia. Kita serahkan semua persoalan kepada pemerintah yang tidak henti hentinya kita keroyok dan hina setiap hari. Kita dipermainkan oleh cukong cukong minyak tanah setelah hutan kita dibabat habis dan kita susah mencari kayu bakar.

Kita harus memakan ikan, sayur dan buah awetan dari China dan negara lain setelah kita dikebiri dan tidak sanggup memancing sendiri karena malas dan takut gelombang, bisa bisa masuk angin.

Kita sekolah tinggi sampai jebol atap universitas saking tingginya memanjat, setelah sampai dipuncak lalu turun dengan ketakutan tidak dapat pekerjaan dan menyusu pada asing menjual anak bangsa dan SDA yang melimpah hanya untuk dapat komisi sana sini dan memperkaya diri keluarga dan konco konconya.

Ramadan mubarrak ramadan karim, ramadan membawa berkah dan kasih sayang kepda siapa kawan?. Sebagaimana manusia pasif pada umumnya semua berucap sama dan tidak melakukan apa apa apa. Para pejabat ramai sekali bersafari ramadan, safari artinya berkeliling, berwisata, berdarma karya entah sampai pelosok mana.

Pejabat meninggalkan tugasnya untuk sekedar mengajarkan orang bagaimana menjadi pemenang dan menjadi orang yang kembali kepeda fitrahnya. Ada pula yang akhli ekonomi ghoib khusus datang dari jarak yang jauh naik helikopter untuk mengajarkan doa agar bebas dari hutang!.Lebih dahsyat lagi ada yang membawa ustad terkenal yang khusus menyuruh orang bersedekah agar dibalas Allah 100 kali!.

Aduh capek deh!. Kalau mau jadi pemenang dalam perang bukankah haruas ikut berlatih jadi serdadu lebih dahulu. Kalau mau tidak jatuh kepada hutang jangan ikuti politik kredit yang disepakati oleh semua pejabat dan orang bank dari bank besar sampai bank lalat dong.

Kalau mau bisa bersedekah berjuanglah, bekerja dan berkarya agar mendapat hasil besar dan bisa membayar zakat, infak dan sedekah. Kalau mau hidup damai seharusnya pejabat tetap ditempat menjalankan tugasnya sesuai dengan job deskripsi. Biarlah para ulama yang mengajarkan bagaimana bisa hidup tenang dan damai pakai ajimat yang diecerkan dan digantung dipintu rumah.

Entah kapan mulainya, kita punya pejabat yang GR sekali sehingga latah mau disebut ulama dan ulama kita tidak kalah genit ingin disebut umara’ sehingga bergincu tebal dan ikut bersaing menjadi kepala apa saja.

Kita telah bicara tentang kemerosotan peradaban Islam sejak akhir abad XVIII karena masalah seperti tersebut tadi tapi kita terus saja membiarkannya berlalu sebab kita percaya kalau masih punya pejuang yang akan melakukan tugasnya dengan baik. Islam itu tidak usah diformalkan biarkan saja bergentayangan sendiri.

Rakyat jelata akan memungut butiran butirannya seperti memungut sedekah. Kini kita menganggap Islam itu hanya ideology sekedar untuk memenangkan pilkada atau simpati jama’ah agar terus membesar. Jangan katakan kebernaran sebisanya, agar rakyat tetap bodoh dan dapat diekploitasi.

Ideology telah menjadi parasit atau benalu dipohon besar bernama agama Islam, setelah 100 tahun lebih kurang, sipohon besar tidak lagi tampak karena penuh dengan benalu berbagai rupa yang ditempel sendiri oleh ummatnya. Kini yang dominan adalah parasit dan kita menganggap parasit itu sama dengan agama Islam.

Saat ada anak muda yang menyadari eksistensi benalu yang makin kuat, dia maju dan mulai mebersihkannya lalu dituduh penjahat. Tidak cukup dianggap penjahat sekalian dicap teroris agar sama dengan nada suara bos yang memberi infus dan pundi pundi uang aspal!. Islam tidak akan mati oleh parasit tetapi hati para penganutnya yang mati tek sek!. Mati Pisan!.

Ada yang perotes keras bahwa warung dibandara buka dan orang bebas makan, pemda monyet tidak tegas dan orang yang tidak puasa baik muslim atau non, tidak toleran dan tidak menghormati orang puasa.

Meskipun orang boleh tidak puasa dengan alasan tertentu dan non muslim bebas makan minum tidak juga membuat mereka yang reaktif mengerti bahwa puasa itu untuk diri sendiri dan Tuhan saja, itu rahasia kita berdua!.

Mengapa kalau rahasia berdua harus marah marah kepada orang tidak puasa hanya karena ingin dihormati dan pamer kalau sedang puasa?. Gagal sudah rahasia berdua dengan Sang Kahlik dijaga, bagaiman mau mendapat orang yang amanah menjaga rahasia kalau begitu?. Habis ramadan ribut lagi memborong apa saja, padahal waktu mulai ramadan juga sudah memborong dan terus memborong tiap hari.

Selain itu ada ritual palsu yang sengaja dibesarkan oleh penguasa untuk mengeruk keuntungan yaitu mudik!. Betapa banyaknya kepentingan tersembunyi dibalik mudik itu. Siapa bilang mudik adalah bagian dari ritual Islam kawan?.

Silaturahmi itu tiap hari dengan mengucap salam dan berjabat tangan, sedekah itu tiap hari ; minimal dengan senyum, Memaafkan itu juga tiap selesai shalat minimal 5 kali memaafkan. Ata jangan jangan kita hanya mau memaafkan orang sekali setahun dan yang parah lagi kita tidak pernah memaafkan diri sendiri.

Menjelang detik detik penentuan besok atau lusa hari yang ditunggu maka disiapkanlah acara pawai, Ketika ada himbauan agar tidak berkonvoy, reaksi keras bermunculan.

Kebiasaan berteriak dibawa bawa saat menggemakan takbir yang akhirnya membuat makna takbir menjadi uap yang menghilang.

Ciri orang beriman adalah bila mendengar takbir maka hatinya akan bergetar dan luluh!. Jadi kalau teriak teriak takbir dengan megafon, yang teriak mabuk, yang diteriaki sedang kumat darah tingginya, sia-sialah menyebut Tuhan ditempat dan saat ynag salah.

Islam tidak butuh kampanye dengan konvoy dan teriakan. Islam tidak butuh pejabat GR yang pingin jadi ulama dan Ulama GR yang pingin jadi umara’.

Islam itu diam, tenang , damai, indah dan penuh kasih sayang.

Kita tidak perlu membuktikan dengan gegap gempita. Islam tidak perlu dikerek dan ia tidak jatuh oleh apapun tetapi manusianyalah yang jatuh terpuruk karena tidak tahu diuntung.

Selamat menyambut A’idil Fitri Esok atau Lusa, salah pastilah kita bersalah, dosa pastilah kita berdosa, mari kita saling memaafkan dan diam dalam hening seperti Islam yang selalu sejuk dan damai itu. Wallahualambissawab.

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply