Sasak! Ramadhan Bohong Lagi – Fenomena Ujian

Setiap hari anak-anak lewat didepan rumah menuju lapangan olah raga. Baik saat berangkat atau pulang ada saja anak yang menggedor pintu lalu berlarian riang merasa menang entah untuk apa.

Diakhir tahun keenam anak anak itu akan disiksa oleh ritual berkala orang orang tua mereka. Ritual itu yang buat orangtua dengan cara, ukuran dan ketentuan orangtua. Anak-anak begitu tegang dan terkooptasi oleh ambisi orangtua yang menginginkan si anak harus begini atau begitu.

Orangtua lupa bahwa anak itu adalah titipan Allah yang punya dunianya sendiri dan berkembang sesuai tuntunan yang sesungguhnya sudah memiliki tuntunan dari Yang Memberi Titipan.

Banyak anak yang jatuh harkat dan martabatnya disaat ujian dan akan terpatri dalam hatinya bagaimana para pemangku kepentingan pendidikan mengatur konspirasi jahat secara massif dan dengan jaringan luas ala intelijen.

Ada anak kecil yang bercerita tentang kejahatan itu kepada ibunya dan ibunya yang berhati bersih karena masih memegang tuntunan dari Sang Penitip Anak, dihajar, diusir, dihinakan lalu dalam waktu sebulan orang yang menyerang itu datang dan merayu ibu dan anak yang malang itu agar kembali ke rumahnya.

Manusia sakit memenuhi bumi ini. Pemimpin agama dan pejabat pemerintah adalah orang orang sakit maka jamaah dan rakyat jelata terinfeksi oleh penyakit mereka.

Ramadhan yang datang reguler sekali setahun adalah sama dengan bulan yang lain dengan segala kewajiban dan larangannya. Yang ketakutan adalah orang yang tidak sempat mengikuti dan menjalankan proses hidup selama bulan bulan yang lewat dengan kecepatan lintas ingatan manusia.

Seolah Ramadan datang dengan tiba tiba. Bahkan sebelumnya sudah gegap gempita karena terancam kadaluarsa sebagai manusia dengan predikat tertentu di saat akhir pintu kebaikan ditutup. Lalu beramai ramai mengadakan halal bihalal ramadhan, saking takutnya memasuki ajang ebtanas dan ebtainternas baik evaluasi fisik maupun mental spiritual.

Evaluasi ini adalah satu satunya ujian atas badan, jiwa dan pikiran. Sebuah privilege yang luar biasa dimana hanya orang mukmin (pecinta damai) yang mendapatkannya.

Adakah anak anak boleh bertanya saat sang guru mengacungkan dua tangan ke arah atas dan berdoa dalam bahasa Arab?. Tidak ada,semua mulai dengan tengok kiri kanan lalu sama sama menengadahkan tangan seperti si tukan baca doa itu, maka meluncurlah kata amin, dulu duluan dan banyak banyakan.

Begitu banyak yang harus tidak difahami bahkan kalau membuat terjemahan atas ayat harus sesuai dengan kemauan satu dua orang. Akibtanya jamaah besar hanya berhenti pada level bermain anak anak dan tidak pernah mencapai tingkat ummat dimana manusia adalah manusia sesungguhnya.

Pernahkah ada yang menterjemahkan kata agama dengan pegangan hidup, way of life, filosofi, cara berperilaku, tuntunan atau kata lain yang lebih sederhana?. Adakah yang mau menterjemahkan kata Islam dengan kedamaian, damai, keselamatan, selamat, keamanan, aman atau kata yang lebih mudah dicerna?.

Beberapa bulan lalu saya terlibat dalam diskusi di sebuah forum yang membahas satu ayat dari Al Qur’an. Yang menjadi sumber pertengkaran dan bahkan konon menjadi alasan seseorang menjadi murtad.

Dan barangsiapa yang mencari agama selain ISLAM, maka tidak akan diterima agamanya itu, dan di akhirat dia termasuk golongan yang menerima SIKSA yang pedih” (QS.Ali-Imran:85).

Yang paling tidak suka dengan ayat ini adalah orang yang membaca kata Islam itu. Saya akhirnya menyodorkan terjemahan sederhana bahwa agama diganti dengan kata jalan atau pegangan (hidup) atau way of life dan Islam diganti dengan selamat/damai sedang akhirat diganti dengan bathin.

Dan barang siapa mencari jalan hidup selain keselamatan, kedamaian maka tidak diterima caranya itu, mereka adalah golongan orang yang bathinnya tersiksa pedih.

Terjemahan saya yang pasti ditolak oleh kyai itu, sangat disukai oleh orang yang tidak mengerti Islam sejatinya. Kita sudah sepakat bahwa akhirat adalah rahasia Ilahi tetapi kita terus saja bicara seolah kita tahu segalanya.

Kita sepakat bahwa akhirat adalah alam yang berbeda dan hanya dapat dibayangkan secara bathin dan oleh karena itu ia adalah bagian dari bathin kita. Tuhan tidak tidur, tidak duduk, tidak beranak, tidak makan dan tidak melakukan apapun yang dilakukan oleh manusia. Sebab Ia ada diawal, ditengah dan diakhir. Kita hanya menggambarkan Ia dengan  kesanggupan kata-kata kita.

Padahal saat kita mencetuskan kata untuk menggambarkan Tuhan, serta mereta Ia bukan Tuhan tetapi ia adalah lukisan kita sendiri. Betapa banyaknya kita terjerumus dalam perkelahian soal gambar yang hanya sama dalam kata tetapi beda gradasi dan bahkan ada disparitas, intensitas frekuensi bathin yang merasakannya.

Siam atau puasa diterjemahkan berbeda beda sesuai dengan kebutuhan. Ada yang puasa hari pertama dan terakhir karena hari kedua sudah tidak tahan dan kembali seperti sediakala.

Bukan soal makan atau minum karena kalau kita tidak makan atau minum sama sekali, kita tidak akan mati dalam 3 hari. Tetapi melakukan hal yang rutin, yang biasa menipu terus menipu, yang biasa korup lanjutkan korup, yang biasa mencuri atau merenten biasa sajalah.

Sementara diambang berbuka puasa, ibu-ibu menyiapkan panganan terbaik karena pahalanya sangat besar, grand prix, dan diyakini sangat ces pleng untuk menebus dosa.

Sebenarnya yang mengatur hidup kita adalah kita atau Tuhan sih?. Kalau memang Tuhan, mengapa tidak memakai aturan yang disepakati sebagai aturan Tuhan dalam kitab suci-NYA?.

Tangan diatas lebih baik dari yang dibawah tetapi akan sempurna kalau mulut tidak bawel. Memberi jangan sampai orang tahu, bahkan tangan kiri kita saja jangan sampai ngerti.

Tapi kita pamer zakat, infak, sadakah ke semua orang baik yang hidup maupun yang mati seperti saat omong di kuburan dan di Facebook itu.

Ada satu kesempatan di Ramadhan ini yang diincar ramai ramai. Harus dihari ganjil untuk bertemu dengan pengantar surat. Malam itu melebihi seribu bulan dahsyatnya. Maka orang orang menghantamkan dengkulnya ke lantai dan mengganjal jidatnya dengan logam atau beling, sampai hitam saking ambisinya bertemu si Malaikat itu.

Selebihnya dia hanya leha-leha, tidur ngorok sepanjang waktu dan menanti buka puasa yang nikmat. Ramai sekali masjid diawal awal dan senyap ditengah sampai akhir.

Yang jadi Panutan Ummat sejak 1500 tahun itu saja tidak pernah gegap gempita. Semuanya berjalan dengan alamiah dan bersahaja. Saya belum pernah dengar Rasul SAW pergi mengisi ceramah ke berbagai kota dan meninggalkan anak istrinya dengan jubah kebesaran dan berumbai-rumbai.

Belum pernah juga Beliau keliling berteriak sepanjang hari dan malam untuk mengajak orang berjuang melawan keburukan diri dan menegkakan kebaikan.

Makin bising kehidupan ini oleh perlombaan besar besaran jamaah yang bermain bekel, yoyo dan petak umpet. Sayang tidak ada satupun yang berhasil mencapai ummat yang disebut terus oleh Nabi diakhir hayatnya. Ummati, ummati, ummati….
Di level ummatlah kita baru teruji.

Kita boleh menyebut diri ummat kalau kita telah mapan berpegang pada rahmatan lilalamin, kasih sayang kepada semua makhluk, yang memuliakan manusia dan kemanusiannya. Apakah kita puasa saat ini karena kita menginginkannya atau karena kita seperti anak anak yang menggedor pintu lalu lari dengan riang entah untuk apa?.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply