Sasak! Pariwisata NTB, Selebritis dan Duta Outsourcing

Demi mengetahui bahwa Bapak Richard Gere diundang datang ke Borobudur oleh pejabat berwenang saya mulai kerasukan ruh patriot dan nasionalis yang sudah menjadi tulang belulang dan debu tetapi aroma kegelisahan mereka bergentayangan membuat saya mimpi buruk. Mimpi buruk itu sepanjang hidup saya terus datang dan membuat saya gelisah.

Tentu saya gelisah sebab setiap hari saya melihat rakyat jelata berubah menjadi zombie tolol dan pemimpinnya menjadi zombie besar bagaikan Rahwana kelas kolor ijo yang memangsa zombie zombie kecil yang berlarian sampai di Padang Pasir Arab Saudi hanya untuk dipancung oleh si Kolor putih.

Kita mau berjualan, yang dijual adalah produk dan kekayaan kita sendiri. Konon kita punya barang dan kekayaan sangat tersohor ke manca negara melewati samudra dan memancar ke langit tinggi. Ketika kita masih lebih primitif alias asli dengan jati diri yang murni kita mengirim anak bangsa untuk melukis batik, memahat topeng dan menari klasik; Jawa, Sunda, Bali, Betawi, Batak, Melayu, Dayak, Bugis sampai Papua.

Kita gilir mereka membuat benua Eropah sumringah dengan bau tropik gerak gerik seniman kita itu. Kita bikin panas Amerika Utara dengan sambal balado dan pelecing sembari menari kecak beramai ramai. Kita bikin orang di Timur Jauh bergoyang lidah dengan Nasi Goreng dan Satay mak nyus.

Jati diri yang kuat dengan ragam pesona karakter budi pekerti dan bahasa menawan adalah harta utama bagi manusia utuh yang berpijak ditanah dengan kesanggupan mencipta suarga dibumi. Setelah datangnya kolor merah dengan bintang bertaburan, sedikit demi sedikit mental anak bangsa menjadi lemah dan merapuh.

Kepiawaian para patriot dengan diplomasi sekelas Churchil, ideologis setingkat Lenin, gerilyawan sehebat Che, orator sebrilian Castro dan banyak lagi yang telah lenyap dalam kesunyian alam baka, tampaknya telah hilang tanpa bekas disapu tornado dari derap kuda kolor merah yang ngoboys.

Sekarang kita punya pemerintah dengan zombie dan para raksasa berkuasa yang terus bersembunyi dibalik nama rakyat yang juga adalah zombie tolol. Rakyat terus meminta kepada zombie besar agar diberi makan, kalau perlu diifuskan supaya tidak repot mengunyah. Rakyat minta pekerjaan, minta diselamatkan dan minta disekolahkan tanpa perlu repot belajar karena untuk ujian akhir perlu dinasionalkan seperti halnya program pusat lainnya harus sama serempak dan dengan hasil sama yaitu lulus semua dengan membuat kekompakan dalam hal mencontek.

Awas kalau ada yang bilang bilang tentang kecuarangan. Zombie tidak mengenal kecurangan sebab memang demikianlah aturan mereka. Mereka tidak sanggup melihat apa apa yang lebih jauh dari ujung hidungnya. Oleh karena itu mereka tidak tahu bahwa kebobrokannya sangat terang benderang ditonton makhluk lain.

Mentalitas yang makin terpuruk bersamaan dengan ekonomi yang digadaikan yang membuat ketergantungan pada asing membikin pejabat pariwisata ikut hanyut dalam hayalan megalomania ala Holywood. Kita sesungguhnya punya diplomat dan atase baik dari pejabat sendiri atau atase kehormatan yang diambil dari bangsa Asing yang berkedudukan di berbagai belahan dunia, tapi kita masih kurang terus, sedemikian kurang dan lemahnya sehingga perlu mengangkat duta pariwisata asing untuk menjual produk kita. Kalau diplomasi pariwisata saja di Outsourcing atau MLM kan seperti itu mau apa jadinya kita ini?.

Kita telah saksikan bahwa Bill Gate dan Phillip Kotler pernah diangkat menjadi duta Pariwisata sebelumnya, apakah ada hasil signifikan?. Saya tidak melihatnya. Keramahan, keamanan dan pelayanan adalah yang paling utama sebagai duta pariwisata kita dan pelakunya adalah diri kita sendiri. Kalau PBB dan organnya atau Organisasi/perusahaan internasional lainnya pantaslah menggunakan diplomat/duta internasional tapi Indonesia, muke lu jauh!.

Mana ada orang asing mau capek capek mengurus kita?.

Perusahan tambang besar di Papua, NTB, Kalimantan, Sumatera yang mengeruk harta kita, mengapa bukan mereka yang dipaksa jadi duta pariwisata yang nyata nyata hidup dari mengisap darah kita?. Mengapa Richard Gere yang sudah tidak populer lagi diungkit ungkit?.
Mungkin nostalgia sang pejabat yang masih ingat 25 tahun yang silam dia pernah ke Bali, begitu saja. Berapa biaya menyewa tokoh besar itu untuk sekedar menempelkan nama Indonesia?.

Kita punya seniman berdedikasi, diplomat profesional, dan pemikir serta agamawan kelas dunia. Seharusnya kita mengerahkan orang orang kita itu untuk menggemparkan dunia kalau sekedar ingin mengundang wisatawan berkunjung ke negeri ini.

Orang orang kita yang hidup, merasakan dan tahu apa, siapa dan bagaimana kenusantaraan itu jauh lebih dahsyat energi yang dipancarkan ketimbang seorang Richard Gere yang berjuang untuk mengerti untuk apa berputar putar dialur pradaksina atau sekuat tenaga membuka mata ketiga dalam meditasi. Sedangkan kita tidak berbuat apa apa sudah lahir dengan mata ketiga.

Para pemimpin dan rakyat jelata telah kehilangan identitas begitu rupa sehingga tidak lagi percaya bahwa kita dapat melakukan hal besar untuk diri sendiri. Kita tak dapat melihat dengan baik kecuali dengan hati,hal hal yang mendasar tak dapat dilihat oleh mata. Kita telah menutupi hati kita dan hanya mengandalkan mata dan percaya bahwa orang lainlah yang serba bisa.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply