Sasak! Komunisme dan Islam

Pada semester yang lalu anak pertama saya yang sedang mengambil master psichology mendaftar untuk mengambil psicholgy islam tetapi ditiadakan karena peminatnya hanya 5 mahasiswa. Menarik sekali bahwa kita ummat Islam ngebet betul mengislamkan apa saja.

Waktu SMP saya sempat dengar bahwa semua mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan ajaran agama Islam. Maka saya tidak bisa membayangkan bahwa matematika akan seperti apa, kemudian pelajaran bahasa atau ilmu sosial akan sama dengan pelajaran agama Islam. Yang terakhir ada orang gila mau mengislamkan pariwisata.

Jangankan pariwisata ke Bali atau Lombok, yang wisata religius berhaji dan umroh saja banyak tidak islaminya. Mengapa biaya naik haji dan umroh lebih mahal di Indonesia dari negara lain?. Itu yang dipertanyakan keislaman para pengelolanya, bukan kegiatan berhaji-umrahnya. Islamkanlah para stakeholder, menteri dan jaajarannya sampai petugas lapangan di tanah air dan di Mekkah sana.

Begitu juga guru, dosen dan para kiyai mereka harus sudah diislamkan atau mereka sekedar lahir ikut ikutan jadi islam lalu jadi makelar ilmu dan jual ayat.

Ketika anak anak masih kecil ada yang tanya kucing kami itu beragama Islam atau apa?. Kami harus meberi jawaban yang masuk akal, tapi bagi anak anak, mana ada yang masuk akal. Hanya kita saja menganggapnya masuk akal.

Beberapa waktu yang lalu terjadi keributan yang mengungkit posting seorang anggota sebuah forum yang bersemangat menulis tentang ideology komunis. Tak berapa lama admin mengeluarkan statemen bahwa dalam 24 jam akan dihapus dan keanggotaan si pembuat status akan dicabut. Benar juga setelah 24 jam hilanglah status dan sekaligus si pembuatnya.

Gara-garanya adalah bahwa si anggota yang komunis itu mengatakan bahwa bukan Islam sejati kalau tidak mengakui komunis, tentu kutipan dari tokoh Muslim Komunis yang diambilnya.

Begini, Islam itu adalah langit dan bumi sedangkan komunisme adalah debu yang menempel diselembar dedaunan. Tentu saja sebagai debu ia adalah bagian dari bumi dan langit dan oleh karena itu semua orang waras bisa sepakat bahwa daun dan debu itu adalah bagian dari bumi dan langit.

Tetapi kita tak dapat mengatakan bahwa bumi dan langit itu sama dengan daun dan debu yang menempel itu. Jadi sebagai muslim sejati tentu mengakui bahwa komunis itu ada tetapi ia tidak selevel dengan agama Islam. Partai politik tentu harus membuat corong sebesar mungkin agar semua orang mendengar dagangannya.

Ketika sebagian besar ummat Islam tidak begitu dalam pengetahuan agamanya maka tinggal dipetikkan saja beberapa ayat lalu sesuaikan dengan bagian paling hot dari komunisme. Tentu saja semuanya jadi klop, tidak hanya dengan Islam, komunisme bisa kompatibel dengan apapun karena memang harus menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan.

Bagaimana kita ini, kok bisa ada Marxisme Islam dan sejenisnya sedangkan di USSR mereka harus mencuci otak manusia sejak bayi lalu dijarkan mata pelajaran wajib ATHEISME!, supaya sejalan dengan ideology barunya.

Selama itu orang sembunyi-sembunyi beribadah, baca Torat, Bible, Al Qur’an dan shalat dengan rasa tercekam. Bagaimanapun setelah 70 tahun runtuh dan kini ummat beragamanya sedang tertatih-tatih membangun rumah ibadah dan sekolah agama serta sangat antusias belajar ke kita.

Kejadian runtuhnya USSR adalah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa ideology komunisme tidak sesuai dengan fitrah kemanusian kita sebagaimana kapitalisme yang melahirkan turunannya yang lain; kolonialisme, feodalisme, liberlisme dan kini harus wasapada dengan neolib yang memperalat demokrasi.

Semua ideology itu adalah kendaraan kekuasaan.

Di zaman komunisme USSR para pejabatnya mewah mewah sedang rakyat dapat jatah daging 2 kg perbulan dengan susah payah dan berkolusi , begitupun dengan pakaian!. Di Kuba dan Korea Utara semua dapat rangsum sama, beberapa kilo gandum/beras, beberapa butir telur dan sembako lainnya.

Itu baguslah dalam soal pembagian rangsum tetapi apakah manusia harus hidup semacam ayam petelur dalam kurungan. Ada sesuatu yang baik yang perlu kita ambil yaitu pengembangan IPTEK, Kedokterannya nomor satu didunia.
Kita ambil bagian itu dan pemerataan rangsum, selain itu JELEK!. Sudah.

Sebenarnya bisa tidak kita mengislamkan science?
Itu pertanyaan sudah ada sangat lama dan meskipun sudah dijawab tetap saja masih dipertanyakan.

Ada kodokteran Islam, ada ekonomi Islam, Perbankan Islam dsb. Maksudnya apa? Kedokteran Islam itu adalah bahwa penerapan ilmunya harus sesuai dengan syariat Islam. Misalnya pemakaian alkohol, menangani persalinan, operasi pasien wanita harus dokter wanita.

Ekonomi Islam, bagaimana berdagang yang sesuai tuntunan syariah dan juga perbankan Islam. Itu semua hanyalah judul komersial dari para penjual pendidikan dan Ilmu pengetahuan.

Seharusnya akhlak orang Muslim yang akan menjadi dokter, ekonom, bankir dsb itu yang harus dan wajib dibangun terlebih dahulu. Begitupun akhlak seorang politisi harus baik. Sehingga apapun yang dipegangnya akan menjadi baik, indah dan benar sejalan dengan Islam.

Tokoh muslim komunis itu pastilah sangat aalim dan memahami siyasah. Soekarno membuat Pancasila dan Nasakom adalah karena ia seorang ideolog dan akhli politik dan filsafat.

Apakah para pembawa ajaran tokoh tokoh itu sudah mendalami bidang yang sama seperti tokoh idolanya itu sehingga berani main kutip dan menyebarkan ide dimuka wam?.

Itu sama dengan kelakuan para TGB baik yang Bajang maupun yang Belang yang memberi pengajian dengan mengutip nasihat gurunya, sementara ia sendiri hanya bermodal serpihan serpihan kitab kuning yang sudah tidak lengkap.

Tapi suaranya paling keras seolah dia sendiri yang benar dan mencerca orang lain karena menurutnya shalat yang benar itu demikian dan bukan yang lain. Jangan-jangan kita baru sekedar sebagai fans atau pengemar lalu berhalusinasi menjadi orang besar itu di depan awam. Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply