Sasak! Kita Yang Terkutuk

Entah bagaimana mulanya batu bara yang ditimbun di Labuhan Haji terbakar dan menyisakan bencana penyakit dan kerusakan lingkungan. Laporan masyarakat konon ditanggapi dengan ungkapan “Tidak ada uang”.

Semestinya semua pejabat yang tidak punya uang memakai dalil aqli dan naqli yang dihafal luar kepala untuk menanggulangi semua persoalan.

Tidak punya uang tetapi punya kaki dan tangan, mengapa tidak bersama sama, ramai ramai menggempur asap hitam yang mengancam kesehatan masyarakat?. Kalau mereka sakit akan ada keluhan lagi, “tidak ada obat”, “Tidak ada dokter atau perawat”.

Pariwisata NTB yang begitu gegap gempita bicara soal visit Lombok Sumbawa 2011, kelihatannya mulai meredup saking lelahnya bicara dengan tema yang sama kepada orang yang sama!. Bagiamana tidak?. Seharusnya kita gencarkan promosi besar ke manca negara, tapi kita sibuk berseminar, berkonferensi dan berjualan dipasar di depan rumah kita sendiri.

Semua kita tahu bahwa menjual pariwisata itu harus dengan promosi besar  yang menjangkau 10 arah mata angin!.

Selain lurus ke ujung utara, selatan, timur, barat, dan diantara keempatnya kita juga perlu menyelami lautan yang dalam dan terbang ke angkasa yang tinggi agar kita terlihat jelas oleh penduduk Alaska, Greenland, Tanjung Harapan, Antartika, Gurun Sahara, Amazon dan semua sudut bumi ini.

Kalau ditanya sampai dimana kita?. Baru sekeliling saja, ketemu kawan lama dan bicara tema lama. Persoalannya adalah uang yang tak ada dan pejabat juga tidak ada.

Kemarin saya bertemu dengan seorang teman  yang pernah berusaha di Lombok dizaman ORBA selama 3 tahun. Bersama bangkrutnya pariwisata Lombok, mereka pulang kampung dan membuka usaha pariwisata ala desa. Dia menjadi pawang untuk para anggota Dewan dan Pemda yang melakukan tour atau study banding ke negara tetangga atau ke daerah lain.

Kawan itu bisa dapat  job sebagai pawang karena harga yang ditawarkan sangat masuk akal bagi para punggawa dan anggota dewan yang tidak terhormat lagi itu.

“Bagaimana saya bisa menghindari keculasan manusia manusia itu?” tanyanya. Saya heran mengapa dia sampai mengatakan ada yang culas. Dia menyodorkan harga perorang satu juta, tetapi dia menandatangani tanda terima empat juta!. Dengan pesan bahwa kalau ada yang tanya harus dia jawab sesuai dengan perincian yang dibuat sendiri oleh kordinator proyek.

Sulit dipercaya bahwa seorang pemimpin  yang lulusan ponpes , bersama jajarannya bisa-bisanya berkata “Tidak ada uang” dalam menghadapi bencana dan ancaman kesehatan bagi rakyat jelata.

Lebih lebih yang menjadi gubernur adalah pemuda berani yang berilmu tinggi yang sudah menyapu padang pasir Giza dan menginjak Pyramid si Fir’aun itu. Mereka ini adalah orang orang yang bersyahadat dan bicara bahwa “Kita adalah mukmin yang bergantung pada tali Allah!”. Tetapi kalau ada masalah maka kita bergantung pada “UANG”.

Bencana tidak memerlukan uang, bencana adalah akibat perbuatan oknum tetapi yang tertimpa adalah rakyat jelata. Satu orang KORUN dapat menyeret seluruh penduduk. Satu orang ulama dapat menyelamatkan seluruh alam semesta.

Mana tangan dan kaki kalian wahai para ulama yang telah berani mengganti jubah menjadi pakaian ambtenaar?. Apakah pakaian murahan itu telah membuat kalian menjadi komprador yang membeli budak dan menjual rakyat dengan harga satu sen?.

Tidak ada uang, “ndex arax kepeng”  adalah ungkapan manusia kerdil alias pecundang, bukan ucapan pemimpin.

Pariwisata yang sangat dahsyat dalam mengubah ekonomi ditangani dengan ragu ragu.

Di zaman Orba kita mengirim misi kesenian sekali ke expo di Spanyol dan hasilnya 10 tahun saya menangani turis berbahasa Spanyol dari Eropah dan Amerika. Sekali kita tour seni budaya ke Jepang 10 tahun pula turis Jepang membanjiri kita. Dan sekali kita keliling Eropah 10 tahun kita berjualan pernak pernik dari tanah dan bahan yang tersedia disekeliling kita.

Kini para pejabat maunya jalan pintas, menyewa duta wisata manca negara seperti Richard Gere!. Berapa biaya dikeluarkan?. Pasti jauh lebih besar daripada mengirim seniman kita yang pasti menggebrak dunia kemanapun mereka pergi.

Kurang apa hebatnya Lady Diana yang pernah ke Yogyakarta?. Kurang apa hebatnya si Beckham  yang menginap di dekat Borobudur?. Apakah ada dampak signifikan?. Nonsens!.

Pejabat inlander telah menguasai kita sehingga kita hanya dijadikan komoditas untuk sekedar mencari untung pribadi.

Keterpurukan pendidikan, kesehatan dan infrastrukutr bukan karena tidak ada uang tetapi tidak ada niat baik. Semua dimulai dengan perbuatan oknum yang meraja lela di instansi pemerintah dan oknum yang artinya satu orang itu telah menjadi plural atau banyak, sehingga dimana mana ada satu orang oknum yang melakukan mark up.

Dengan adanya oknum yang culas me-mark up biaya, maka seluruhnya berubah jadi tidak terjangkau. Uang akan terus habis karena digunakan tidak semestinya. Gedung sekolah harusnya dibangun sekali dan direhab tiap 5 tahunan kecuali ada bencana. Prinsip uang anggaran harus habis maka secepatnya harus dihabiskan seolah itu adalah uang nenek moyangnya.

Gratis adalah kata yang sangat memalukan akhir akhir ini, seharusnya ada hal yang memang gratis seperti udara, air dan kebutuhan dasar lain yang dapat diperoleh dengan cuma cuma misalnya mengail ikan dilaut, mencari bahan di hutan, tanah untuk membuat bata dan kerajinan dsb.

Tiba tiba kata gratis menjangkiti anggota dewan yang tidak terhormat. Mereka minta dibelikan lap top!. Dengan gaji sebulan sepuluh atau duapuluh kali UMR seharusnya mereka tidak diberi apapun sebab dengan gaji itu mereka bisa membeli sendiri apa yang diperlukan dan mereka bisa juga jalan jalan ke  luar negeri tanpa minta di belikan tiket!.

Kalau merasa kurang silahkan berhenti kerja dan cari bisnis agar bisa menghasilkan uang banyak. Begitupun para pejabat dan PNS, mereka digaji cukup untuk dapat hidup dan bekerja sebulan penuh. Perkara uangnya habis untuk mengkredit barang itu salah manajemen yang mereka lakukan sendiri. PNS dan pejabat  harus hidup bersahaja, naik bis dan jalan kaki. Mengapa yang dikembangkan adalah gaya hidup tetapi minta ditunjang negara dan menjadikan mereka korup?.

Kita terus menangisi TKI/W yang dipancung tetapi tidak seorangpun menginginkan penghentian pengiriman budak itu. Di negeri Arab TKI/W adalah budak bagi sebagian warga, meskipun kita sematkan bintang kejora dan selempang PAHLAWAN DEVISA mereka tetaplah budak yang diperas dari kampung sampai kembali dan masuk kuburan!.

Terkutuklah para pemimpin dan pendukungnya yang menjadi komprador dan menjual bangsanya. Terkutuklah para pejabat yang mencari persen dari proyek yang tidak menghasilkan apa apa kecuali laporan palsu hasil mark up!.

Terkutuklah kita rakyat jelata yang pengecut sehingga tak punya semangat melawan yang diajarkan oleh agama kita, untuk menghadapi dengan gagah berani segala kemungkaran!.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Enhanced by Zemanta

Leave a Reply