Sasak! Benalu dan Kambing Congek – Potret Pengangguran

Sekelompok orang bergantian bolak balik ke bough (bangku dari semen – sasak) lalu duduk, menerawang balik lagi ke sisi jalan lain dan berdiri sesekali berkacak pinggang. Orang lain datang mendekat dan pergi ke seberang dan duduk di bough lalu menerawang ke langit dan begitu seterusnya. Orang orang itu akan menghilang sesaat pada jam makan dan larut sesudah malam.

Di dusun yang berjarak ratusan meter dari resort wisata, penduduknya memakan gadung gratis. Tidak ada masalah kalau mau makan gadung atau uwi atau sudax, gembili, bahkan plisax atau umbi kecipir. Di bukit bukit itu pada musim hujan bisa tumbuk subur talas berbagai jenis. Sorgum, jagung dan ubi kayu dan kacang kacangan. Secara teratur tiap tahun kita mendengar ada kampung yang terpaksa mengkonsumsi gadung karena beras tak terbeli.

Orang Madura selama berdekade, orang NTT dan orang Meksiko mengkonsumsi jagung karena beras tak terbeli. Orang Peru dan pegunungan Andes lain memakan kentang karena beras tak terbeli. Orang Rusia memakan gandum karena beras tak terbeli dan orang Papua pegunungan memakan batata alias ubi jalar karena beras tak terbeli.

Beras tak terbeli bukan karena uang tidak ada tapi memang beras tidak ada. Sebaliknya di dusun itu beras ada, uang ada hanya tempatnya berjarak beberapa hasta dari rumah dan untuk memperolehnya cukup diperlukan beberapa butir keringat, satu langkah niat dan satu gebrakan pertempuran melawan gengsi dan kebodohan.

Saya pernah tinggal di desa yang terletak diujung Bandara Ngurah Rai, di tahun 1978, penduduknya sebagian besar adalah buruh dan pembuat garam yang dijemur pada batang-batang kelapa yang dilubangi dan mereka mengambil air laut dengan ember sepanjang siang yang terik. Mereka makan ubi kayu dan berbagai hasil ladang disekitarnya.

Saya kembali ke daerah itu 30 tahun kemudian dan menemukan resort-resot megah disepanjang pantai dan di ladang ladang mereka. Saya beberpa kali datang dan menginap di hotel berbeda.

Di sela sela hotel besar dan megah itu masih tersisa rumah rumah penduduk yang bersahaja tapi bersih. Mereka masih bekerja di ladang yang makin sempit dan memanen ubi, kacang, jagung, bengkoang dsb. Saat bertemu mereka masih ramah dan menawarkan apa yang dibawa kepada saya. Mereka adalah orang yang sama tetapi pekerjaannya tidak lagi sekedar berladang namun juga ikut melakukan trobosan kecil dengan ikut dalam hingar bingar bisnis pariwisata.

Mereka bekerja sebagai tukang bersih bersih dan yang perempuan menjadi tukang pijat. Anak anak remaja ikut menari dan meramaikan gamelan menghibur turis. Mereka tetap menanam dan memakan hasil ladang sambil sesekali mencicipi nikmatnya makanan internasional. Sebagian dari generasi muda mereka telah menjadi warga dunia dengan karir diberbagai resort dunia, olahragawan dan pejabat tinggi negara.

Orang orang yang berlalu lalang itu adalah orang yang selalu mengahfal rumus rumus membayar hutang dengan doa khusus yang diambil dari ayat suci Al Qur’an. Itu adalah tradisi zaman jahiliyah yang mengambil sepotong ayat dari kitab tertentu untuk menyihir orang agar berwelas asih atau untuk menyihir gadis agar mau dikawini.

Tradisi yang didapat berupa fosil kejahiliahan manusia diungkit kembalin oleh Toean Goeroe dan mengajarkan membaca ayat Al Qur’an hanya sebatas mantra tanpa pemahaman apalagi praktik lapangan. Ayat suci itu sesungguhnya; memerintahkan, mengingatkan, mengancam dan memberi peluang. Yang diambil adalah peluang untuk mendapatkan apa saja dengan cara apa saja sehingga menusia tumbuh dalam jamaah-jamaah pengajian yang menjadi parasit bagi makhluk lain.

Kebahagiaan itu dapat diumpamakan sebagai kupu kupu, ketika kita kejar makin dia menjauh tapi pada saat kita biarkan saja, dia akan datang dan bersimpuh dipundak kita. Orang orang yang selalu mengeluhkan beras yang tak terbeli dengan terpakasa memakan gadung tidak akan pernah tenang hidupnya, sebab dia tidak mau menikmati dengan rasa syukur apa yang dia peroleh.

Berapa banyak orang yang datang dan pergi ke bough ditepi jalan hanya untuk duduk dan melenguh lalu balik ke rumah dan memakan gadung, ubi, jagung atau bulgur dengan rasa benci kepada orang yang disebut pemerintah. Kita tiada sadar bahwa kita telah berubah jadi benalu yang menempelkan tanggung jawab hidup kepada orang lain.

Dan yang paling banyak ditempeli adalah kambing congek yang berwarna hitam. Maka saking lamanya menempel pada kambing congek kita semua suka berteriak persis seperti kambing itu. Suara bupati kita dengar sebagai kambing. AromaToean Goeroe kita cium sebagai pesingnya kambing. Tak ada yang membakar satay tetapi semua pulau berbau kambing!.

Mentalitas benalu dan kambing congek telah lama merayapi sanubari para pentolan yang menjadi pemimpin dengan cara memperoleh jabatan ala bandot yang main seruduk padahal otak dan penampilannya tak memadai. Tidak cuma jabatan politik yang diseruduk bahkan banyak bandot yang berlagak sholeh dan pergi berhaji berulang kali agar disebut Toean Goeroe Bandot!.

Sembahyang paling rajin dan kadang azan dikumandangkan dengan suara mengembek. Begitu keluar dari masjid langsung pakai pakaian kebesaran dan mulailah sang penipu dengan singgasana berhias sayap malaikat menandatangani dokumen yang memberi upeti dan mebiarkan yang tak berfulus busung kek, mampus kek, hal itu diluar rencana.

Kelak kata para Toean Goeroe, di neraka sana, sambil menunjuk entah kemana, sebab dia tidak tahu letaknya; yang paling ramai mengisinya adalah hakim!. Sekarang kita saksikan hakim saling buka aib, kita lihat ulama dikooptasi regim yang berkuasa sampai mengurus BBM agar masuk dalam satu dekrit ayat suci.

Kita belum juga sadar bahwa masyarakat yang memakan gadung itu bukan sedang menyusahkan perutnya tetapi muak melihat orang lain yang menari nari kesenangan bergelimang harta, padahal orang itu lahir dan diasuh oleh mereka itu bertahun tahun. Mereka telah menjadi benalu dan kambing congek yang membunuh hati nurani. Para pemakan gadung ada yang salah mengolah dan BOWOS, s.a.k.a.w. gadung!.

Dia berteriak bahwa semua ini adalah gara gara si Tuhan yang dimintai tolong membayar hutang tidak kunjung datang. Dia berkata; Tuhan adalah kambing congek sama dengan para pejabat dan pemimpin kita.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply