Sasak! Alhamdulillah Kalau InsyaAllah

Kalau ada yang bertanya, puasakah?. Jawabnya insyaAllah!.
Bisa gak datang ke surau nanti sore, ada acara ngobrol bareng soal neraka dan surga?. InsyaAllah!.
Kita harus menjawabnya dengan amin!.

Insyaallah dan amin adalah pasangan ungkapan dari orang yang ikhlas 100%.
Kalau orang yang berucap, memahami dirinya dan apa yang ingin dikatakannya. Mengapa insyaallah bisa menjadi kata tak bermakna dan sekedar latah?.

Banyak sekali orang non muslim fasih mengucapkan kata itu dengan takzim dan polos. Dan lebih banyak lagi orang muslim mengucapkannya dengan suara ketus. Entah darimana memulai memperbaiki kalau orang sudah fasih berucap tapi tidak faham ucapannya.

Kita berdoa saja Alhamdulillah kalau insyaalah bisa membuat orang lebih hati hati dan waspada akan ucapannya.

Allah itu mengambil posisi sesuai dengan putaran kalbu hambanya. Hendak kemana perasaan dan cita-cita sang hamba Allah menuruti saja. Bukankah dunia ini sudah diserahkan kepada bani Adam?.

Meskipun sebagian besar kita meyakini hal itu sebagai hukum pengasingan atas kesalahan polah tingkah Adam sewaktu di Surga. Hukuman itu alhamdulillah bukan untuk selamanya, insyaallah.

Kita dahulu juga berada di suarga dan lima puluh ribu tahun sebelum kita hadir dalam rahim ibu, kita telah menyetujui traktat dengan Sang Khalik.

Sayang otak kita sangat minim dieksploitasi dan hati kita sangat jarang digosok sehinga otak kita yang kerdil dengan memory yang terbatas tak sanggup membuka file purba kita dan hati kita sangat buram sehingga jendelanya tak dapat menembuskan cahaya.

Islam itu melulu soal akhlak, sebab agama lain dan science maupun adat sudah menyentuh masalah lain dan bahkan sedikit banyak tentang moral atau akhlak itu. Islam mengatur sampai ke tempat tidur dan jamban.

Sayang sekali otak kita kecil sedangkan mulut kita kebesaran dan kebanggaan nafsu melambung sampai ke langit tinggi membuat kita kekurangan aturan dan mempersoalkan detail sampai kita terjerumus saling hujat dan saling bunuh.

Kalau sudah sampai level saling serang, pak Iblispun tertawa riang dan benarlah sinyalemen yang mengatakan bahwa pak Iblis sudah memutuskan pensiun dini dari profesi yang dijalani dengan sangat ikhlas tanpa gaji buta apalagi gaji terang dan tanpa Alhamdulillah atau Insyaallah segala.

Pelajaran berharga dari Iblis pensiunan adalah bahwa Ia berkata dan menjalankannya dengan segala resiko, Tuhan mengizinkan dia sebab dia melakukan tugasnya dengan kesadaran penuh.

Ibarat pemain role dalam sebuah film, pak Iblis adalah pemenang semua kategori peran dengan penghayatan dan profesionalisme tertinggi. Itu kebolak kebalik dengan kelakuan kita, dari masyarakat terbawah sampai rohaniawan sama saja sukanya bicara tanpa mengerti sedang omong apa.

Kita tentu senang punya rohaniawan agar dapat menjadi pembuka misteri masalah rohani, ya sekedar masalah rohani. Seperti seorang dokter akhli penyakit dalam, kita perlukan untuk menolong kita mengerti akan ganguan penyakit organ dalam kita. Tapi apakah ahli rohani dan penyakit dalam itu memang tahu dan mengerti apa yang dilakukannya?.

Rohaniawan dan dokter spesialis itu hidup dari penderitaan manusia. Ada yang menderita rohani karena banyak beban dan luka selama pertumbuhan hingga dewasa dan orang sakit dalam adalah orang yang menderita oleh prilaku hidup yang tanpa sadar keliru, baik oleh orangtua, lingkungan maupun tindakan diri.

Jadi mengapakah kita harus mengeluh kalau semua perbuatan adalah hasil dari gerak hati dan cita cita kita sendiri?.

Kalau ada yang protes bahwa dia sudah memasang niat dan cita cita tapi tidak kesampaian maka harus ditinjau ulang apakah cita cita dan niatnya itu sangat jelas kuat dan terlihat dalam perilaku sehari hari?. Kebanyakan dari kita saat ini adalah muslim yang gagal mengejawantahkan keislaman kita.

Dunia pendidikan kita sesuiakan dengan kebutuhan lapangan kerja dan bukan untuk meninggikan harkat martabat manusia sebagaimana janji Allah yang akan menaikkan beberapa derajat harkat orang yang berilmu.

Para ulama atau cendekiawan baru pada tahap senang disebut sebagai ulama atau cendekiawan padahal pengetahuannya akan Islam baru sebagian saja sesuai dengan kajiannya dari ulama specialis bidang special pula.

Suatu pondok atau sekolahan kalau diisi oleh akhli dari satu almamater maka akan keluarlah alumni yang sejenis dengan mereka, baik dari mutu maupun specialisasi.
Kalau sudah sampai waktunya dan dapat menghafal kitab tertentu, sudah pasti diberi gelar entah berantah dan dapat membuka bisnis pondok atau sekolahan, dimana dia dapat meminta kepada masyarakat atas nama tuhan untuk membangunkan madrasah lalu ketika sudah jadi anak anak yang ikut memberikan uang susu dan gizinya disuruh membayar uang pendidikan mahal sedang uang BOS dia sembunyikan sebab menurut mazhabnya hal itu boleh, halal dan toyyibah.

Kita sirik dengan mazhab Berkley yang mengaharu birukan ekonomi kita tapi kita tidak sadar bahwa ada mazhab alias mafia bersorban yang menggerogoti dari sisi lain. Mazhab Berkley itu muncul karena adanya dominasi dari alumni satu perguruan, begitupun dengan mafia berjubah, satu guru, satu visi dan lupa akhlak Rasul SAW yang super sederhana, santai dan teguh berperinsip.

IAIN/S telah diubah menjadi universitas Islam negeri/swasta demi agar alumninya beraroma Islam yang sedap. Ternyata baru sekedar nama doang, hasilnya sarjana abal-abal bersorban dan berjanggut ala Padang Pasir tapi ruhnya kapitalis murni.

Science tak dapat disilamkan, seperti juga kita tak dapat mengislamkan demokrasi tetapi orang yang Islam hati nurananya akan melaksanakan semua hal sesuai dengan hati nurani keislamannya. Tapi korupsi dilakukan oleh manusia yang berKTP Islam!.

Baik yang sudah karatan maupun yang muallap!. Islam dianggap sebagai sekedar ilmu sosial saja. Atau sekedar budaya, sehingga budaya Arab dibuat pecel lele untuk dihidangkan ditepi jalan.

Bagaimana para kyai menyitir ayat demi ayat setiap hari dan ditambah pula dengan hadits shohih dan dhoif, biarpun dhoif kalau menguntungkan sikat saja bleh. Kalau ada yang mengungkit Aisyah RA yang menikah saat masih kecil, langsung naik pitam tanpa memahami kultur zaman itu.

Bahkan di zaman kita ini di Thailand ada gadis dari sebuah suku 9 tahun menikah denga pria 26 tahun dan umur 10 tahun melahirkan. Tidak ada satupun yang membicarakannya padahal bisa digoogle!.

Mengenai para rohaniawan yang suka menyitir betapa Rasul Allah memilih hidup bersahaja bahkan miskin demi agar bisa bebas bergaul dengan rakyat jelata, sambil menitik air mata si tukang doa itu bercerita dengan hiba, tapi jubahnya gemerlap, kacamata import, parfum dari Armani!.

Dan para jamaah membebek menirukan ucapan sang idola, hanya ujung kata saja!. Coba dengarkan kata jamaah setiap kali mengaji; ” lah”, “bar”, “ga” kadang sampai “ka” pantas saja jadi manusia setengah gagu dalam kehidupan sehari hari.

Kita harus berhenti pada level jamaah, agar terus bisa bermain main petak umpet, harus ada yang disembunyikan karena kalau sudah ke level ummat tidaklah ada artinya si tukang kibul atau pemain sandiwara. Ummat yang satu adalah tubuh yang satu dimana kaki yang sakit menyebabkan rasa pusing dan lemah disekujur badan.

Lain dengan jamaah, duitku ya untuk aku. Istri dan suami harus sama satu jamaah kalau tidak sama nanti bisa cerai loh. Kayak partai politik, bikin cerai suami istri hanya karena bela sosok idola lain.

Masyarakat kita sudah sangat bangga hanya dengan modal menghafal istilah agama, banyak banyak salawat, ada salawat agar hutangnya lunas tapi terus saja terlibat dengan bank lalat yang menagih jam empat pagi sampai jam duapuluh empat. Ada doa khusus untuk masuk suarga, doa bebas siksa kubur, doa mudah rezeki dan kesehatan.

Kita terus dicekoki dengan nasihat agar mengendalikan hawa nafsu tetapi kita boleh bernafsu sekuatnya demi mendapat suarga, rezeki dan kesehatan lalu korup sambil jungkir balik shalat dengan salam takzim kiri kanan, jangan lupa naik haji berkali kali.

Kita tahu banyak doa tapi kita hanya membuatnya mantra sim salabim, tanpa pernah mempertanyakan apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan untuk mencapai realisasi mantra kita yang bukan ketok mejik itu. Kita tidak kunjung berhenti pada khayalan dan berkata Alhamdulillah kalau Insyaallah baik tanpa wudlu, baik sedang berbuat kebajikan atau maksiat.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply