Revolusi di Masjid Kita

Revolusi  bagi sebagian orang baik tua apalagi muda hanyalah kata cemoohan. Makna revolusi telah digradasi oleh pejuang pejuang  palsu yang berkali kali dieprtontonkan oleh sejarah  negeri bahwa mereka yang tadinya revolusioner hanyalah cecunguk yang doyan duit, pangkat, jabatan dan privilege VOC gaya baru.

Jangankan revolusi, seruan agama saja membuat orang tunggang langgang ketakutan bersembunyi dibalik pluralisme, demokrasi dan HAM. Ini sebuah kemunduran dalam tatanan nilai. Tidak ada lagi cara mendobrak kebisuan. Tidak ada lagi jalan menghancurkan status quo yang memberi tempat bercokol bagi bromocorah bernama pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif yang menghisap darah rakyat jelata.

Jika saya harus urun rembuk memimpin tanah ini maka saya pertama-tama mengundang seorang ulama yang zuhud. Saya tak mungkin mengundang Toean Goeroe sebab goeroe yang mana yang menjadi boedaknya sehingga mau mengangkatnya menjadi toean. Sedangkan  nasib goeroe di tanah ini tak lebih dari pak turut yang diupah agar membuat anak lulus dangan wajib lapor 100% lulus.

Ulama zuhud itu saya undang khusus untuk memimpin shalat jenazah dimana saya harus berbaring ditempat si mayat, sebab saya adalah pemimpin dari manusia yang mati termutilasi sejak berpuluh puluh tahun dan tidak ada yang mendirikan shalat jenazah untuknya. Manusia yang saya pimpin adalah mantan manusia yang telah dimutilasi  hati beningnya, otak jernihnya, kejujuran lidahnya, ketakwaan jiwanya, kezuhudan ibadahnya dan  jantung juangnya.

Agar dapat shalat dengan khusuk hendaknya bagian bagian yang dimutilasi yang sudah hitam, sebagian sudah  menjadi mumi, sebagian telah memfosil dijahit dengan kepastian bahwa bagian itu adalah milik tubuh si fulan atau fulana.

Bagaimana manusia itu bisa berjalan kesana kemari bak zombie dengan bolong-bolong besar disekujur prilaku dan akhlaknya.

Bagaimana mereka dengan gagah perkasa melepasakan undang undang dasar hakiki yang diberi oleh Rabbnya.

Bahwa mereka diturunkan di bumi Allah ini hanya dan hanya untuk beribadah.
Bagaimana mau memimpin ibadah shalat makmum yang tidak berwudu atau tayammum, bahkan mandi saja tidak. Jiwanya keruh dan badanya penuh dialiri darah haram karena memakan rezeki yang tidak ada hak atasnya. Bagaimana mau mengajak berjamaah untuk membangun ummat sebagi puncak peradaban eksistensi manusia kalau diri ini sudah termutilasi dan compang camping. Meskipun jubah atau seragam harian VOC baru dan janggut serta bedil AK 47 ditangan, hal itu tidak mebawa kebaikan melainkan sebagai tontonan film cowboy dipadang tandus dengan tengkorak kepala dan sepatu bekas diatas kuburan tak dikenal.

Pemimpin apakah yang sanggup mengarahkan manusia untuk taat azas pada undang undang bahwa manusia itu seharusnya dan semestinya hanya hidup untuk beribadah kepada Allah. Manusia mana yang bisa berkata, itu bukan milikku karena aku adalah pelayan bagi jelata. Bahwa aku adalah pesuruh dari raja yang bernama rakyat. Bahwa aku harus menjamin tuanku itu agar makan tepat waktu, belajar ilmu dengan tekun, berobat kalau sakit, mandi 2 kali sehari, bekerja dengan baik dan keluar rumah dengan sumringah. Sebelum aku memberi makan tuanku, akulah terlebih dahulu mencicipi makanan yang akan aku hidangkan kepadanya. Aku akan dikecam, terkutuk  dan menjijikkan kalau sampai tuanku dan anak anaknya makan RASKIN!. Kecuali aku sendiri juga memakannya, karena pemberian tuanku itu.

Kalau kita sudah sepakat bahwa compang camping manusia bobrok ala zombie itu adalah akibat mutilasi nilai yang pernah tertanam dalam lubuk hatinya maka tida ada jalan lain bahwa kita harus kembali ke Masjid dan merevolusi fungsinya. Hendaknya kita kumpulkan ulama zuhud yang tersisa dari kehancuran bom globalisasi yang telah menghanguskan peradaban kita.

Kalau Jepang saja sukses setelah 20 tahun dari kehancuran karena mengumpulkan sisa sisa guru yang zuhud untuk menjahit compang camping manusia Nippon yang tidak kenal Allah, maka mustahil kita kalah dengan mereka sedangkan kita adalah manusia pilihan. Pilihan kere, miskin, bobrok, jorok, degil, pelit, judes, rakus, korup, maling, menipu dan sebut semua kejelekan itu ada didalam kecompang campingan tubuh kita.

Ulama zuhud itu kita bayar tinggi dan kita beri podium-podium, tempat yang tinggi dimana mereka akan kembali mengajar siapa saja  dengan ilmu-ilmu terapan dan ilmu-ilmu murni. Kita tidak memerlukan sarjana yang hanya menunda sebutan sebagai penganggur. Kita tidak memerlukan master atau doktor yang hanya momot-meco minta diberi makan oleh rakyat jelata dari gaji sebagai PNS.

Kita mesti, harus dan wajib mengembalikan anak bangsa kita kepada generasi yang cinta imu dan datang ke masjid masjid dan duduk tenang dibawah podium yang berhembhus sepoi angin peradaban berilmu tinggi dari ulama yang zuhud itu. Sesiapa yang diputuskan pantas lulus maka dia akan dapat diploma dari ulama itu langsung ditulis tagannya sendiri yang tak mungkin dipalsukan dan dijual belikan sekedar untuk menaikkan gengsi.

Para ulama zuhud itu bisa mengajarkan sains, teknology, bahasa, seni, filsafat, ilmu Al Qur’an, hadits, kedokteran, keprawatan, Ilmu falak, psikology, sastra, politik, ekonokmi, pertahanan, persenjataan, kimia, fisika, astronomi, geology, geografy, sosiology, antroplogy, arkeology, jurnalistik, olah raga dan semua ilmu yang dibutuhkan. Sehingga seorang murid atau mahasiswa yang tak kenal tamat apalagi berhenti belajar dapat belajar dari 10.000 guru dengan berbagai ijazah ditangannya. Marilah kita hentikan kecendrungan menyembah diploma yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi  kita yang ternyata hanya memproduksi manusia zombie dan menjadikan mereka penghisap darah rakyat.

Kalau betul kita beriman dan yakin bahwa hidup ini hanya untuk beribadah kepada Allah maka tidak ada lagi yang harus diragukan bahwa revolusi itu harus dimulai di masjid kita yang sejuta buah itu.

Siapa yang punya masjid, jadilah yang pertama dalam revolusi ini.

Berani menerima tantangan?. Silahkan teriakkan revolusi sekarang dan disini.

Wallahualambisswab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply