Perang Topat Antara Hindu Muslim di Pura Lingsar Narmada

Ribuan orang di Pulau Lombok tumpah ruah di sekitar Pura Lingsar, mereka memadati lahan kosong di sekitar bangunan kuno tapi masih kokoh itu.

Prosesi demi prosesi pun diikuti dengan khidmat sebelum akhirnya aksi saling lempar sebagai rangkaian “Perang Topat” dimulai.
Perang Topat atau perang ketupat merupakan salah satu tradisi warisan leluhur suku Sasak (nama suku di pulau Lombok) dan suku Bali. Warisan budaya ini telah ada sejak 1759, dan hingga kini masih terpelihara dengan baik.

Warga Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya yang beragama Islam dan Hindu, terus berupaya memupuk jalinan persaudaraan meskipun membentang perbedaan keyakinan.

Jalinan persaudaraan tersebut diwujudkan dalam sebuah ritual “Perang Topat” atau perang ketupat. Acara ini dipusatkan di Pura Lingsar yang dibangun oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karang Asem, Bali, yang memerintah bagian barat Pulau Lombok.
Pura Lingsar dibangun di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, berjarak kurang lebih sembilan kilometer dari Kota Mataram, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pura Lingsar merupakan kompleks bangunan tempat persembahyangan yang sangat unik. Selain pura sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu, di kompleks pura juga terdapat bangunan yang diberi nama “Kemalik” yaitu tempat yang dikeramatkan oleh sebagian orang suku Sasak.

Bangunan pura yang bernama Pura Gaduh terletak di bagian atas atau di sebelah utara menghadap ke barat, sedangkan “Kemalik” terdapat di bagian selatan. Kedua bangunan tersebut dibangun berarsitektur Bali.
Dalam kompleks Pura Lingsar juga terdapat taman, telaga, pancuran, dan lainnya yang menambah indah dan nyaman suasana. Khusus untuk telaga, sering dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai pelosok Pulau Lombok, sebagai arena memancing karena pengelola telah menebar berbagai jenis ikan air tawar seperti karper dan mujair.
Ritual “Perang Topat” yang digelar setiap tahun pada bulan Purnama Sasih keenam menurut Kalender Bali dan ke pitu (tujuh) menurut kalender Sasak. Sebelum peperangan dimulai terlebih dahulu diadakan upacara Pujawali.

Upacara ini merupakan pencerminan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuran.
Persiapan upacara dilaksanakan beberapa hari sebelum acara pokok, untuk menyemarakkan suasana. Beberapa jenis kesenian tradisional dipertunjukkan sebelum dan sesudah upacara Pujawali.
Pujawali adalah upacara persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya bahwa segala sesuatu sesungguhnya menjadi milik yang Kuasa.

Usai prosesi Pujawali, barulah perang topat dimulai. Ketupat sebesar butir telur yang dipergunakan terlebih dahulu diarak oleh iring-iringan “Batek Baris” yakni belasan pasukan berpakaian ala kompeni Belanda, lengkap dengan senapan.
“Batek Baris” ini berada di barisan depan mengawal puluhan kaum ibu yang membawa ribuan ketupat dan sesajen dalam bentuk bunga dan buah-buahan menuju “Kemalik”.
Ritual doa di “Kemalik” usai ketika rara’ kembang waru (gugur bunga waru) sekitar pukul 17.00 WITA. Pada waktu inilah warga saling melempar dengan menggunakan ribuan ketupat berukuran sebesar butir telur yang dibuat warga desa.
Berbagai perangkat yang harus tersedia agar “Perang Topat” berjalan sesuai dengan warisan leluhur yakni rombong, sesaji, kebun odek, lamak, momot, kerbau dan ketupat.

Rombong atau lumbung kecil berisi beras ketan sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan sosial, sedangkan sesaji (sajian) berupa dulang berjumlah sembilan buah yang berisi nasi yang mengandung arti sebagai lambang kesuburan alam dan kemakmuran rakyat.
Kebun odek atau kebun mini terbuat dari buah kelapa hijau yang sudah tua yang dipangkas ujungnya sampai rata kemudian diatas daging kelapa ini ditancap sembilan batang bambu yang panjangnya 20 centimeter dan 30 centimeter dan ditancapkan secara berselang-seling.

Kebun odek ini melambangkan kesuburan kebun atau tanah yang dipenuhi dengan batang pohon yang lebat dan hijau untuk kemakmuran rakyat, di dalam kebon odek ini terdapat berbagai macam buah-buahan sebagai tanda kesuburan.
Lamak atau alas yaitu tikar dari pandan. Tikar ini digulung dan didalamnya diletakkan sajadah serta alat-alat shalat untuk lelaki dan perempuan seperti sarung, baju koko, peci, rukuh dan mukenah.
Di atas gulungan tikar tersebut diletakkan kitab suci Al Quran yang ditempatkan pada “sogan-sogan” yaitu peti yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segi empat tertutup. Hal ini mengandung makna mengingatkan umat Islam agar tidak lupa menjalankan ibadah shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Momot yaitu sebuah botol berukuran kurang lebih satu liter dalam keadaan kosong ditutup rapat, disegel dan dibungkus dengan kain putih lalu diikat dengan kuat. Hal ini melambangkan kehidupan yang kekal di alam akhirat.
Kelengkapan keenam yakni kerbau yang dipergunakan ketika napak tilas mengelilingi pura. Ini melambangkan bekal yang dibawa oleh Syekh Kiai H. Abdul Malik sewaktu berdakwah di daerah Lingsar dan sekitarnya. Kemudian kerbau ini disembelih untuk dimakan bersama peserta napak tilas dari suku Sasak dan masyarakat Hindu.
Terakhir adalah ketupat yang digunakan warga untuk saling lempar. Jumlah ketupat mencapai ribuan dan jumlah ini harus kelipatan angka sembilan yang melambangkan angka keramat dan menunjukkan Walisongo yang berjumlah sembilan orang.
Topat yang dipergunakan untuk saling melempar tersebut biasanya dibawa pulang untuk ditabur di sawah pada malam hari disertai doa permohonan kepada Tuhan agar sawah petani diberi kesuburan dan hasilnya melimpah.

Wisatawan

Ritual “Perang Topat” tidak hanya menjadi milik warga di Pulau Lombok, tetapi juga milik warga dari berbagai negara, seperti yang terlihat ketika tradisi tersebut digelar Minggu (21/11).
Belasan wisatawan ikut berbaur mengabadikan gambar menggunakan kamera yang ditentengnya. Sambil memotret, sesekali mereka melempar ketupat ke arah warga yang sebelumnya melemparkan ketupat ke arahnya.
Para wisatawan tersebut ada yang sengaja diundang panitia penyelenggara dan ada juga yang datang dengan kemauan sendiri.
Mereka tampak antusias menyaksikan sebuah pemandangan yang mungkin tidak pernah ada di negaranya. Apalagi ritual ini adalah upacara yang digelar oleh etnis berbeda.

“Perang Topat” memang dijadikan sebagai sebuah aset budaya sejarah yang bisa “dijual” untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Pulau Lombok, khususnya Lombok Barat.
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat ke depan akan menambah satu even lagi yakni festival gendang belek Lombok Barat.
Tentunya berbagai even bernuansa pariwisata ini diharapkan mampu menjadi salah satu penopang untuk mewujudkan NTB Beriman dan Berdaya Saing (Bersaing) melalui “Visit Lombok Sumbawa 2013” yang diharapkan mampu menarik satu juta wisatawan pada 2013 mendatang.

Keharmonisan

Wakil Bupati Lombok Barat H. Mahrip mengatakan, “perang topat” merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan umat Islam dan Hindu di Pulau Lombok NTB.
“Perang Topat” bukanlah suatu peperangan yang identik dengan saling membunuh. Tapi ritual ini adalah kegiatan yang menyebabkan terjadinya rasa persaudaraan antara umat Muslim dengan Hindu.
Menurut Mahrip, tradisi tahunan warga Pulau Lombok, khususnya yang ada di Kecamatan Lingsar, adalah bentuk rasa syukur kepada sang pencipta alam yang telah menganugerahkan sumber daya alam terutama air sebagai sumber kehidupan manusia.
Oleh sebab itu, ritual itu dirangkaikan dengan berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat dan tokoh agama di Kecamatan Lingsar.

Kegiatan keagamaan dilakukan dalam bentuk “syafaah” yakni pembacaan Surat “Al Ikhlas” sebanyak 1.000 kali yang dibacakan khusus oleh tokoh agama dari umat Islam
“Pembacaan “syafaah” sudah dilakukan tadi malam, sedangkan sore hari ini merupakan puncaknya yang dilakukan setelah shalat ashar atau dalam bahasa Sasak “rorok kembang waru” (gugur bunga waru). Tanda itu dipakai oleh orang tua dulu untuk mengetahui waktu shalat Ashar,” katanya.
Sementara warga Hindu dari berbagai pelosok Pulau Lombok, menggelar upacara Pujawali di pura Lingsar pada saat puncak acara “Perang Topat”.

Ritual “Perang Topat”, kata Mahrip, memiliki tiga dimensi manfaat. Pertama, mewujudkan rasa syukur kepada sang pencipta atas limpahan sumber daya air yang diberikan.
Kedua, adanya rasa kebersamaan yang ditimbulkan antara suku Sasak dan Suku Bali (Islam – Hindu) yang menggelar ritual dengan tujuan yang sama.

Manfaat ketiga, dari sisi ekonomi. Tradisi “Perang Topat” merupakan even NTB, khususnya Lombok Barat, dan satu-satunya di dunia, sehingga pasti laku dijual kepada wisatawan untuk mengetahui bagaimana sejarah dan proses “Perang Topat” terjadi.
“Perang topat ini kita jadikan even bagaimana kita melakukan perubahan dari sisi kebersamaan beragama, pendidikan, pariwisata dan lain-lain untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Rasa kebersamaan antar umat beragama yang tercermin pada upacara tradisi “Perang Topat” tampaknya bisa menjadi contoh nyata dalam mengembangkan hidup berdampingan di masyarakat yang sangat pluralistik seperti halnya Indonesia ini.

Di Copas Dari: http://antaramataram.com/berita/?rubrik=8&id=13707

Leave a Reply