Nasionalis Ikut Religius

Perbincangan anggota forum Face book mengenai Marxisme yang menyangkokkan diri pada Islam berlanjut dan makin menghangat. Sebenarnya kalau mau mencari sendiri mengenai apapun dalam sebuah diskusi, cukuplah mencari di kamus, ensiklopedia dan kalau lsitrik nyala dan internet berfungsi bisa cari diberbagai sumber dunia maya.

Tapi kalau sudah ketemu lalu diam saja maka diskusi terhenti maka benih pahala jadi tidak tumbuk subur, berbiji dan berkembang biak, sebab makin banyak memberi gagasan berarti membagi ilmu dan ilmu adalah salah satu dari sumber pahala yang tidak putus meskipun manusianya sudah mati.

Mengenai kekeliruan dalam berfikir, tidak usah khawatir karena ganjarannya adalah satu poin pahala dan kalau benar 2 point masuk transkrip nilai akhir. Pahala cukuplah diartikan sebagai kebaikan, sesuatu yang bermanfaat, energi positif, daya hidup agar kiat tidak kejauhan menyentuh hala hal yang diluar jangkauan, terutama di forum yang levelnya adalah orang awam seperti kita ini.

Meskipun sudah ada pengertian bahwa ideologi tidak dapat dibandingkan dengan agama tetapi masih terus terjadi saling bantah,seolah bahwa ideologi itu bisa disejajarkan dengan agama dalam hal ini Islam. Ideologi sebagaimana namanya adalah kumpulan ilmu pengetahuan tentang ide atau gagasan. Sedangkan Agama adalah ide dan gagasan dari langit atau wahyu.

Ideologi yang bikin manusia dan bersifat artifisial untuk mencapai suatu tujuan POLEKSOBUDHANKAM yang bersifat duniawiyah. Ideologi dikembangkan lewat pendidikan dan pelatihan yang bersifat indoktrinasi untuk tujuan praktis. Ideologi bersifat pragmatis, menyesuaikan dengan keadaan.

Ideologi Pancasila umpamanya diambil dari kebiasaan, adat, dan kondisi masyarakat Nusantara.

Ideologi Jucheisme yang disusun oleh rezim Kim Il Sung adalah hasil pemikiran yang merupakan sekumpulan gagasan mengenai identitas diri bangsa Korea (Utara).

Sedangkan Agama adalah ajaran yang menyangkut material (duniawiyah) dan spiritual (rohaniah). Didalam Agama ada banyak hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan meskipun dapat dilihat mata tetapi hanya hati yang dapat merasakan dan memahaminya. Ideologi hanya bersifat logis dan disusun untuk diterapkan dalam waktu singkat dan dsiesuaikan dengan keadaan.

Misalnya militerisme, memerlukan program wajib militer. Komunisme mengharuskan sosialisme sebagai landasannya. Kapitalisme mewajibkan riba agar bisa tegak. Dalam menegakkan ideologi tertentu penipuan, pemaksaan dan kekerasan boleh dilaksanakan hanya atas pertimbangan praktis dan pragmatis.

Serangan terhadap Libya dan sebelumnya terhadap Irak, Afganistan dsb oleh USA itu adalah karena alasan yang banal dan pragmatis. Pertama alasan ancaman terhadap dolar aspalnya yang akan digusur baik oleh Khadafi ataupun Saddam Husein dan alasan lokasi strategis untuk Afganistan selain heroinnya.

Tindakan brutal yang banyak menimbulkan korban jiwa diberbagai negara di Timteng, Afrika, Asia dan Amerika Latin adalah buah dari ideologi invasif kapitalisme dan neoliberalismenya. Invasi ke negara negara berkembang dengan SDA melimpah memerlukan cara yang strategis agar dapat dieksploitasi tanpa batas.

Kalau dahulu eksploitasi dilingkungan sendiri secara terbatas dengan hati hati karena menyangkut negeri dan bangsa sendiri yang memiliki keyakinan sama dan berorintasi sama maka kali ini sudah keluar dari semua ikatan itu.

Namun di negeri seberangpun mereka mempunyai nilai, pandangan dan pegangan yang hampir sama yaitu adat dan agama. Untuk melawan kekuatan agama itulah dirancang program jangka pendek dan jangka panjang yang sekarang kita kenal dengan ideologi.

Lalu apanya yang bisa disejajarkan dengan agama?. Agama meliputi seluruh aspek jiwa dan raga manusia dari yang terang benderang dan logis sampai yang tak terjangkau akal yang paling moncer dengan IQ tertinggi sekalipun.

Nasionalisme adalah ideologi pada umumnya dengan batasan negara, geografis, geoloplitik, kultural dan bisa juga ras. Tujuannya adalah membangun rumah tangga dengan anggota yang bersepakat menjadi satu kesatuan. Nasinalisme tidak terlepas dari tujuan pragmatis dan banal seperti semua ideologi yang bersifat artifisial.

Untuk melidungi diri ideologi nasionalisme itu membangun falsafah, pemerintahan dengan tantara yang siap menyalakkan senjata bagi yang merongrong kesepakatan awal. Tiba tiba kesepakan tidak boleh diubah dan ada ancaman keras atas penyangkalannya.

Indoktrinasi, kesetiaan dan ketaatan pada undang undang dan konstitusi yang dibuat oleh sekolompok orang langsung menjadi sebuah thagut bagi semua orang, yang harus dihormati, dilindungi, dipertahankan dan diamalkan.

Religius adalah sifat manusia yang mentaati, istiqomah, terhadap aturan agamanya dimana tidak ada satu halpun boleh bertentangan dengan keimanannya. Keyakinan bisa diterapkan pada ideologi tapi tidak keimanan. Keyakinan bisa punah seketika tetapi tidak keimanan.

Keyakinan yang ditanamkan oleh kaum sosialis yang berkata:
“Sosialisme – apa yang engkau lakukan akan sesuai dengan apa yang engkau dapatkan.
Dan Komunisme – Semua orang berusaha sesuai dengan kemampuannya dan memperoleh sesuai dengan kebutuhannya.”

Akhirnya patah oleh kekuatan sepupunya sendiri kapitalisme. Saya memburu sosialisme dan komunisme sampai berberapa kali ke negara dedengkotnya Rusia. Mereka bilang tidak ada Komunisme karena tidak mungkin bisa dicapai. Ideologi itu tidak sesuai dengan fitrah manusia dan begitulah akibatnya, kita runtuh dan runtuh lagi oleh pemberontakan karena ketidak adilan sosial padahal ia menjadi pedoman.

Begitupun dengan kapitalisme dimana mana harus menipu dan menghancurkan demi menumpuk uang dengan tipu muslihat. Buahnya adalah krisis yang dibuat global oleh segelintir cukong besar dunia. Kaspitalisme membuat 40 orang bersama konglomerat lainnya di Indonesia ini mengontrol hampir 80% uang yang ada.

Bagaimana mungkin hutang 40 orang terkaya dkk itu, menjadi hutang seluruh anak bangsa sampai yang bayi pun!. Kita harus hormat dan tunduk kepada duli toean cowboy yang membayar dengan dolar aspal dan setuju 100% bahwa kertas hijau itu kita hargai 8.500 rupiah dan pernah 20.000 rupiah per biji!.

Celakanya dilingkungan kita sendiri tanpa sadar telah berkembang para penganut ideologi berbagai rupa sehingga banyaklah oelama yang berubah menjadi Toean. Mula mula menjadi Toean (bosnya) para goeroe, secara perlahan berubah menjadi toean takoer, mereka memang memakai pakaian dan cara bicara oelama tetapi sejatinya adalah toean/bos yang juga mengumpulkan uang/kapital untuk membangun menara babel dengan cara yang sangat halus dan membonceng agama.

Silahkan bandingkan para Toean Goeroe dan Babah babah yang menjadi toean, majikan majikan dan konglomerat, mereka sama, sehat, bergaya, mobil bermerek, rumah banyak dan tabungannya pasti dolar, tanah dan emas tapi yang menonjol adalah sampai punya pondok 10 buah yang diakui miliknya sendiri.

Bahkan sekarang oelama su’ itu telah menyamar jadi artis, penyanyi dan badut demi mengeruk kapital besar dari kebodohan rakyat jelata. Suatu yang kontraproduktif dengan misi rahmatan lilalamin.

Religiusitas tidak membuat perpecahan sedangkan ideologi sudah pasti membangun sekat. Nasionalis berapapun besar dan hebatnya tidak akan berdaya tetapi satu orang religius dapat membuat 250 juta rakyat merdeka. Ingat Bong Tomo ia mekikkan takbir!. Ayatullah Khomaini, Bunda Theresa, Gandhi, Martin Luther King,Moh. Natsir, Mandela, Paus Paulus II dll adalah orang religius.

Mereka berhasil terlebih dahulu sebagai manusia dengan nilai tertinggi, kemudian baru dikenal sebagai orang dari negara tertentu. Hanya agamalah yang dapat memuliakan manusia dan kemanusiaannya.

Agama menjegal riba, ideologi menjalankannya. Agama melarang eksploitasi, ideologi membolehkannya. Agama mengharamkan judi dan spekulasi, serangan dan pembunuhan, perusakan lingkungan dan genosida, ideologi mengahalalkannya.

Jadi bagaimana mungkin kita masih berharap kepada orang orang yang berwajah religius untuk merangkul rakyat jelata yang sholeh dan ikhlas sambil memberi batasan ideologis yang banal dan pragmatis?.

Pelajaran berharga dari Hitler, Musollini, Stalin, Kim, Castro, Idi Amin, Slobodan Milosevich, Westerling dan Kasus PKI di Indonesia adalah karena sebab ideologis pragmatis.

Masalah terorisme yang sebenarnya adalah kejahatan besar oleh para kriminal itu ditunggangi oleh kepentingan ideologis USA dalam rangka perang psikologis terhadap penganut Islam maka mereka dengan senyum menempelkan stigma di jidat muslim dengan label teroris!.

Jangan lupa bahwa para kriminal yang disebut teroris itu mengembangkan ideologi tersendiri dengan membajak agama Islam. Sebagaiman seorang pencuri dikampung dalam skala kecil kecilan sebenarnya memilki ideologi yang bertentangan dengan keyakinan dan agama orang dikampungnya.

Maka ia disebut Maling, mungkin memang ada ideologi Malingisme yang sudah dikembangkan sehingga sudah ada sejuta maling yang militan dengan job deskripsi jelas untuk mengambil jatah sapi perekor dari proyek BSS itu. Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply