Nasi Puyung, Si Pembakar Lidah

Anda yang gemar dengan menu makanan pedas bertingkat-tingkat, marilah datang ke Pulau Lombok, NTB. Di Pulau ini, para pemburu pedas lega dengan menjamurnya warung nasi berlabel “Puyung” di setiap sudut kota. Nasi puyung semacam oase ditengah gempuran menu Jawa-Padang yang begitu-begitu saja.

Nama puyung diambil dari nama kampung di Kabupaten Lombok Tengah asal menu ini muncul. Kekuatan makanan ini terletak pada lauk dan penyajiannya. Nasi putih dengan lauk sambal daging ayam goreng yang dipotong kecil-kecil tanpa tulang. Ikut pula menemani taburan kedelai goreng kering dan abon.

Jika berkenan, menu semakin lengkap bersama irisan tipis mentimun, kerupuk udang dan aneka soft drink sesuai selera. Aroma khas daun pisang sebagai alas bakal semakin menggugah lapar.

Lebih dari itu, Nasi Balap Puyung lebih dikenal dengan citra pedasnya. Di beberapa warung puyung, penikmat justru diberikan tambahan sambal di tempat yang berbeda jika menu masih dianggap kurang menggigit.

Nasi Balap Puyung Ekstra Pedas

Nasi Balap Puyung Ekstra Pedas

“ Pedasnya itu lho, bikin lidah saya tersesat, hehe,, “ aku salah seorang penikmat, Rudi (45), saat makan malam di warung puyung pinggir jalan Karang Bedil Mataram.

Rudi bersama beberapa rekannya hobi berpetualang di dunia rasa. Ia mengatakan sudah mulai bosan dengan menu warung jawa dan padang yang menghiasi sudut kota.

“ Masakan jawa dan padang kan nggak terlalu pedas, nggak cocok dengan lidah saya sebagai orang Lombok,” ungkap Rudi.

Nasi Puyung kini semakin mendapat tempat di lidah pecinta kuliner. Di Mataram kini sudah banyak bermunculan warung puyung dengan lauk dan pola penyajian yang hampir sama. Beberapa diantaranya ada di jalan Panjitilar (Pendopo Wakil Gubernur), kawasan Karang Bedil, Sriwijaya, Cakranegara, Dasan Agung dan dekat kawasan perumahan elit Rembige. Di luar kota, terdapat warung puyung Gerung (100 meter sebelah barat eks pasar gerung, ada juga warung dengan spanduk “ala puyung” di kawasan pertokoan Kediri, meski belum mulai berdagang.

Di Mataram, beberapa warung puyung menggunakan papan nama yang sama; hijau. Warung-warung ini adalah milik grup dende, begitu pemiliknya menamakan. Meski terkesan kecil kecilan, grup ini sudah membuka empat cabang secara serentak. Omzet sehari sangat fantastis, berkisar 25 juta hingga 30 juta rupiah per hari.

Penulis berkesempatan ngobrol ringan dengan Mamiq Ruku’, sang pemilik grup belum lama ini. Ruku’ (61) adalah seorang pensiunan Pemkot Mataram asal Kampung Puyung Lombok Tengah. Bersama empat saudaranya, Ruku’ telah lama menggeluti usaha warung puyung di kampung halamannya. Usahanya kian hari semakin ramai dikunjungi pembeli. Ia akhirnya melebarkan sayap ke Mataram dengan modal seadanya sejak sekitar lima bulan yang lalu.

Kini Ruku’ tengah menikmati rezekinya. Buka sejak pukul 8 pagi hingga 12 malam, grup Dende mempekerjakan sekitar 35 karyawan dengan gaji rata-rata 800 ribu rupiah per orang. Setiap hari warungnya membutuhkan lebih dari 100 ekor ayam dan bebek setiap hari untuk ratusan pelanggan setia. Menu dibagi dalam beberapa pilihan, Nasi Puyung Lauk Biasa seharga 7 ribu rupiah dan Nasi Puyung Lauk Ekstra seharga 10 ribu rupiah. Khusus untuk Nasi Puyung Bebek Mercon ia hargakan 12 ribu rupiah.

Ruku’ sedikit membuka rahasia sukses usahanya. Pertama tentu soal rasa pedas. Ia tidak mau berspekulasi mengurangi sedikit takaran pedas warung miliknya hanya karena ingin menggaet pelanggan yang lebih besar.

“Pedas ekstra itu sudah harga mati,” terang pria 12 bersaudara ini.

Selanjutnya adalah teknik pembuatan lauk sambal ayam yang menurutnya tidak bisa ditiru warung puyung lain. Sebelum digoreng, tulang ayam terlebih dahulu dibersihkan total lalu dibakar baru kemudian digoreng.

“ Anda bisa lihat lauk warung puyung lain berwarna hitam dan banyak tulang, kami tidak. Sambal Nasi Bebek Mercon kami juga khas, tidak bisa ditiru” lanjutnya.

[Sumber: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/08/nasi-puyung-penyesat-lidah-asal-lombok/]

Leave a Reply