Merariq – Ketika Orang Sasak Menikah

Merariq adalah suatu proses awal yang harus terjadi sebelum pernikahan. Merariq adalah kebudayaan masyarakat sasak, NTB. Saya sendiri pernah melihat ini terjadi di daerah Lombok Timur.

Di Lombok, ketika kau ingin menikahi anak gadis seseorang, maka kau harus ‘menculiknya’dari keluarga mereka terlebih dahulu. Kau akan ‘melarikannya’ dari rumah orangtua atau keluarganya dan menyembunyikannya – dimana saja yang kau rasa aman- tapi biasanya kau akan membawanya pulang ke rumah orangtuamu sendiri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah itu kau akan memberi kabar kepada orangtua atau keluarganya bahwa kau telah melarikannya dan menyembunyikannya dan ingin segera menikahi anak gadisnya. Lalu membiarkan keluarganya berfikir untuk mau menyetujuinya atau tidak.

Kalau keluarganya setuju, maka kau akan memulangkan anak gadisnya dan melakukan pernikahan. Tetapi kalau keluarganya tidak setuju maka kau harus menyerahkan anaknya kembali (walau dalam prosesnya sih agak susah).

Itulah merariq. Melarikan, menculik, dan menyembunyikannya dari ‘pemiliknya’.

Memang sedikit unik dan membingungkan. Kau pasti bertanya-tanya, “apakah orangtua atau keluarga sang gadis tidak akan marah dan melaporkannya pada polisi?”

Itulah yang kupikirkan sehingga membuatku menanyakannya pada niniq-ku (dalam bahasa Indonesia kakek). Dan akupun mendapatkan jawaban yang lebih mencengangkan, bahkan bagiku tak masuk akal.

Menurutnya, merariq adalah tradisi yang memang sudah dilakukan turun temurun. Merariq adalah bentuk penghormatan kepada orangtua dan keluarga si gadis, menunjukkan kalau anak gadis yang dimilikinya sangat berharga sehingga si pria yang menginginkannya harus ‘mencurinya’ terlebih dahulu. Dan konon katanya, kalau seorang gadis sudah merariq namun tidak melanjutkan ke pernikahan karena orangtuanya tidak menyetujui mereka, maka gadis itu tidak akan bisa menikah seumur hidupnya. Dan karena konon itulah jarang ada orangtua yang tidak menyetujui.

Menurutku itu agak tidak masuk akal, karena kalau kau memang ingin memberikan penghormatan yang layak, seharusnya kau meminta baik-baik si gadis dari orangtuanya, atau kita biasa sebut lamaran. Dan lagi, siapa yang tahu kalau perempuan, anak gadis yang dilarikan itu masih gadis setelah dipulangkan? Tidak ada yang bisa menjamin.

Walaupun ada juga yang menganggap itu romantis. Entah apanya yang romantis?? tapi kalau itu memang sudah menjadi tradisi dan kebudayaan mereka, mungkin tampaknya memang harus dipertahankan, ya.

Leave a Reply