Imam Masjid Kami

Imam masjid kami ini sudah parau, saya mengenalnya sejak 24 tahun silam ketika masih aktif menjadi guru di MAN. Tiap subuh dia selalu mengaji dengan lirih, volume megafon dibatasi untuk sekeliling kampung saja. Dia selalu menyuruh kita rapat dalam shalat jamaah. Saling berdekatan satu dengan lainnya. Tapi masih tetap saja tidak bersentuhan, hanya kaki dibuka agak ngangkang entah apa maunya.

Masjid kami telah dipugar dari bangunan joglo menjadi bangunan berbeton dan dimodernkan. Waktu lantainya semen semua membawa sajadah dan sering sajadahnya dibagi dengan saya. Baunya apek meskipun saya tidak mau pakai sajadah tetap saja ada yang pekewoh memasang malang sajadahnya agar saya sujud berbagi dengannya. Kemudian ada yang menyumbang karpet hijau yang sejenis dengan yang dipakai kamar kos.

Dalam waktu beberapa bulan karpetnya melinting disana sini dan diapkir. Lalu ganti dengan karpet yang lebih bagus dan diapkir lagi. Sekarang karpetnya bergambar sajadah. Satu petak satu orang. Celakalah orang yang shalat, jarak satu orang dengan satu lainya melebar sehingga bisa dipakai satu orang lagi!.

Meskipun imam menyuruh merapatkan shaf tetap saja dibatasi garis dalam kotak. Imam agak keras mengulang dan tampak di shaf depan menurut. Tapi shaf kedua dan seterusnya ada jarak lowong sesuai dengan petak masing masing.

Apa maunya, membuat karpet seperti itu, apakah tak seorang muslimpun didunia ini yang dikonsultasikan. Kalau kita berkeberatan dengan karpet model sajadah yang membuat jarak begitu jauh mengapa tak seorang mufti, takmir atau marebotpun mengajukan mosi tidak percaya pada big bos yang mendatangkan karpet dari China atau dari Surabaya itu?.

Mengapa kita begitu lemah didekte oleh pasar dengan menerima seolah memang itu yang kita inginkan. Lain waktu datang sales menjual lampu mahal, untuk darurat saat listrik padam. PLN memadamkan listrik begitu sering dan lama, setiap kali dipeteng dedetkan. Kita harusnya komplain ke PLN agar mereka bertanggung jawab. Entah berapa alat electronik jebol gara gara hidup matinya listrik.

Masjid dimana mana berkembang baik secara jumlah fisik maupun mutunya. Dari semen biasa, malah ada dahulu kala pakai tanah saja, kemudian di keramik, halus dan berkilau. Masyarakat sudah senang bukan kepalang, sujudnya akan sejuk dan tidak perlu kerja keras lagi, cukup dipel sekali sehari. Tahu tahu karpet dan tikar datang untuk menutupi tempat menempel jidat itu.

Mengapa repot dengan biaya mahal memasang kramik terbaik kalau hanya untuk ditutupi tikar murah atau karpet jelek?. Sekarang karpet memang bagus tapi membuat jamaah ngangkang supaya jarak tidak kejauhan, saking bodoh dan dungunya. Sederhananya kan bisa merapatkan dengan mengisi lebih banyak orang dishaf depan sampai penuh terlebih dahulu sehingga kaki dan bahu bersentuhan saling mendukung sebagai cita cita dibentuknya shaf itu.

Di masjid kampus yang megah, selain karpetnya yang mengganggu karena bikin ngangkang ada satu lagi bahwa si takmir tidak kunjung menukarkan uang infaq senilai 2 dolar Singapura. Tiap kali shalat jum’at masih saja dia mengumumkan infak jumat kemarin sekian ratus ribu dan dua dolar Singapura. Entah siapa yang iseng menyumbang dua dolar Singapura.

Mungkin dia ingin menghajar kita yang sholeh sholeh tapi duit kita tercinta si Rupiah diremuk terus oleh si dolar mini milik Singa itu. Takmir mungkin berfikir kalau sesudah satu tahun ditukar uang dua dolar itu lebih manfaat, maklum rupiah terjerumus terus sampai dasar laut akibat bangsa ini menggantungkan lehernya pada tuhan greenback.

Kalau pergi shalat jumat kadang harus memilih masjid tertentu agar tidak ketemu khatib yang adalah teman bermain. Ada kawan yang ngaji saja gak bisa tapi ngeceng jadi khatib kebalikan dengan saya gak bisa bacakan khotbah. Kalau sampai kawan saya jadi imam saya pasti tidak khusuk karena bacaannya kacau sekali meskipun tidak salah menurut lafalan lokal. Jadi seandainya ada yang menegur tetap saja alhamdu dibaca ngalhamdu… jadi shalatlah dengan tenang saja. Gara gara managemen masjid yang aneh siapa saja boleh naik mimbar kapan suka.

Ketika tiba hari raya seperti idul fitri masjid meriah dan ramai untuk tempat menitipkan zakat fitrah berupa 2.5 kg beras. Siapa yang dapat siapa yang tidak dapat, susah menentukan tapi sebelum batas waktu harus dibagi habis. Alangkah kecilnya kewajiban manusia kepada manusia lain. Zakat maal saja hanya 2.5 persen kalau masa kepemilikan dan jumlah barang memenuhi sayarat tertentu. Kalau saya yang menentukan zakat pasti saya paksa 20 persen dari harta, ingin saya lihat bagaiman muka orang kaya menyerahlan seperlima hartanya.

Oh betapa cepatnya para fakir miskin dan anak terlantar dientaskan pendidikan dasar, kesehatan dan pangannya. Tapi kita lebih suka melihat kesusahan di dunia ini karena kita diam diam menderita sadisme. Tukang menyiksa orang. Tapi mungkin juga kita menderita pseudo masokhis yang senang menyiksa diri sendiri. Ada orang yang harus cari masalah dengan menghutang ke rentenir atau bank lalat, kemudian sibuk sembunyi kalau ditagih. Ada juga yang suka minjam perhiasann atau kendaraan tetangga sampai pecah hubungan.

Kalau hari raya korban lain lagi ceritanya, semua ibu ibu dilibatkan membagi daging dan sebagian dimasak untuk dimakan ramai ramai. Ibu ibu berebut mengambil sendiri bagian yang disuka dan para anggota pengurus masjid pulang dengan memanggul daging perolehannya. Sudah makan di masjid, pulang dengan murka bawa daging sekuatnya.

Masjid bukan lagi menjadi pusat kebudayaan untuk menanamkan budi pekerti tapi hari itu menjadi korban pada hari kurban, karena selain tempat membantai alias abattoir juga tempat berebut jatah. Alamak, apa kata dunia?.
Sudah shalatnya ngangkang, zakatnya minim, berebut daging pula, kasihan juga masjid kampungku ini. Kalau seribu masjid seperti itu, bah, harus ada revolusi tentang fungsi masjid yang sesungguhnya. Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply