Berwisata ke Desa Sasak Kuno Sade

Dusun Sade, demikian nama desa tradisional yang terletak di Kecamatan Rambitan, Lombok Tengah. Banyak hal unik yang terdapat di tempat ini. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam dari Mataram, tampak pemandangan yang sungguh berbeda.

Sekumpulan rumah beratapkan alang-alang terlihat berada di antara bukit-bukit yang ada di sekitarnya. Barangkali karena musim kemarau seperti saat ini, semuanya tampak kering kerontang. Hampir tidak ada satu batang pohon pun yang terlihat tegak di antara rumah-rumah yang ada seperti suasana desa pada umumnya.

Memasuki gerbang perkampungan dusun kecil ini, sebuah tulisan dalam bahasa Inggris menyambut kami, “ Welcome to Desa Adat Sade”.

Beberapa anak kecil –berusia kira-kira antara 8 sampai 10 tahun- datang menghampiri saya dengan membawa beberapa cinderamata pada kedua tangannya.

Mereka memanfaatkan cangkang kerang, biji-bijan, tulang hewan, tempurung kelapa, tanduk kerbau, dan sebagainya. Saat memasuki bagian depan kita dapat menjumpai sebuah bale pertemuan yang ukurannya lumayan besar, tempat tersebut biasa digunakan untuk pertemuan, tidak semua warga datang saat menghadiri pertemuan, karena bale itu tidak muat untuk 700 warga desa.

Pekerjaan pokok warga desa Sade adalah bertani. Mereka biasa menanam padi di sawah tadah hujan,yang ada di sekitar desa tersebut. Pekerjaan para wanita di waktu senggang adalah memintal kapas menjadi benang, kemudian benang menjadi kain songket,selendang dan juga syall.

Bangunan yang berikutnya dinamakan bale tani, ya itulah salah satu jenis rumah adat desa Sade, dari luar nampak sudah tua namun kelihatan kokoh. Saat masuk pada bagian dalamnya, sungguh sederhana. Pada bagian lantai yang pertama hanya terdapat sebuah tempat tidur serta sebuah almari untuk menyimpan pakaian dan barang-barang. Pada lantai yang kedua terdapat dapur dan juga tempat untuk melakukan persalinan.

Rumah adat yang kedua yaitu rumah “Lumbung” kalau yang ini adalah rumah untuk menyimpan padi hasil panen . Satu lumbung biasanya digunakan untuk 5 kepala keluarga. Lumbung memang sengaja diletakkan di atas bangunan rumah supaya hasil panen yang disimpan di dalamnya terhindar dari bencana banjir yang datang tiba-tiba ataupun serangan hama tikus.

Uniknya, antara kayu penyangga rumah lumbung ini terdapat piringan kecil dari kayu. Piringan ini berfungsi menghalangi sang tikus masuk kedalam lumbung, maksudnya sang tikus memang bisa memanjat kayu penyangga tetapi tidak dapat memasuki lumbung karena dihalangi oleh piringan kayu tersebut yang membuat sang tikus jatuh.

Rumah adat yang ketiga yakni bale kodong bentuk rumah yang satu ini sungguh berbeda, ukurannya sangatlah kecil, tingginya pun kurang lebih seperti tinggi orang dewasa. Rumah ini biasanya digunakan bagi pengantin baru atau manula yang tinggal beserta cucu-cucunya.

Satu rahasia dari kekokohan pondasi rumah adat desa Sade adalah campuran dari bahan pembuatan lantainya, yang menggunakan campuran tanah dan kotoran sapi.

Cara mengepel lantainya pun juga menggunakan kotoran sapi. Meskipun menggunakan kotoran sapi tetapi tidak menimbulkan bau kotoran! Hal ini dikarenakan kotoran sapi yang baru keluar pada dasarnya terbebas dari kuman-kuman yang membahayakan.

Katanya, sih begitu! Tapi…, tampaknya ada benarnya, buktinya selama ini belum ada keluhan dari warga Desa Sade akibat penggunaan kotoran sapi ini.

Pembuatan kain tenun dilakukan oleh wanita,ini merupakan pekerjaan sampingan bagi wanita desa Sade. Menurut warga desa setempat, menenun itu adalah warisan dari bidadari.

Jika pria menenun maka ia akan terkena penyakit, saat ia akan mencoba untuk menenun pun ia sudah merasakan sakit seperti pusing, keringat dingin dan badan yang terasa meriang, yah ini mitos yang berkembang disana.

Ada banyak jenis kain tenun yang dihasilkan,salah satu yang terkenal adalah kain songket. Penenunan kain songket ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang wanita, karena yang bisa membuat kain songket tersebut hanyalah wanita yang dipercaya direstui oleh bidadari.

Warga Sade menggunakan lampu kerang yang terbuatdari kulit kerang dengan sumbu dan minyak kelapa sebagai alat penerangan. Untuk memasak mereka menggunakan tungku dan kayu bakar serta periuk dari tanah liat. Dan satu lagi yang paling mereka pertahankan, yaitu budaya gotong royong.

Apabila anda ingin menuju desa Sade tidaklah sukar, anda bisa mencarter kendaraan pribadi baik berupa sepeda motor ataupun mobil. Kalau ingin berpetualang dengan menggunakan kendaraan umum/bemo pun bisa.

Dari terminal Bertais anda bisa mencari angkutan menuju Praya, dari terminal Praya anda bisa naik angkutan kembali dengan jurusan Desa Sade, Rembitan.

Untuk biaya angkutan dari Cakranegara (Terminal Bertais) ke Praya Rp 10.000, dan dari Praya ke Rembitan Rp 10.000.

Disana juga tersedia tourguide yang akan menjelaskan semua hal mengenai desa Sade, untuk biayanya terserah kerelaan anda ingin membayar berapa atas jasa mereka ini.

[Diedit seperlunya dari: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2009/11/21/wisata-desa-adat-sasak-lombok/]

Leave a Reply