<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berugak Blogsphere &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://berugak.com/blog/category/budaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://berugak.com</link>
	<description>Blogs The Sasak Communities and Their Cultures</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2009 01:57:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merariq &#8211; Ketika Orang Sasak Menikah</title>
		<link>http://berugak.com/blog/merariq-ketika-orang-sasak-menikah.html</link>
		<comments>http://berugak.com/blog/merariq-ketika-orang-sasak-menikah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 01:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amrinz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berugak.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Merariq adalah suatu proses awal yang harus terjadi sebelum pernikahan. Merariq adalah kebudayaan masyarakat sasak, NTB. Saya sendiri pernah melihat ini terjadi di daerah Lombok Timur. Di Lombok, ketika kau ingin menikahi anak gadis seseorang, maka kau harus ‘menculiknya’dari keluarga mereka terlebih dahulu. Kau akan ‘melarikannya’ dari rumah orangtua atau keluarganya dan menyembunyikannya – dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merariq adalah suatu proses awal yang harus terjadi sebelum pernikahan. Merariq adalah kebudayaan masyarakat sasak, NTB. Saya sendiri pernah melihat ini terjadi di daerah Lombok Timur.</p>
<p>Di Lombok, ketika kau ingin menikahi anak gadis seseorang, maka kau harus ‘menculiknya’dari keluarga mereka terlebih dahulu. Kau akan ‘melarikannya’ dari rumah orangtua atau keluarganya dan menyembunyikannya – dimana saja yang kau rasa aman- tapi biasanya kau akan membawanya pulang ke rumah orangtuamu sendiri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p>Setelah itu kau akan memberi kabar kepada orangtua atau keluarganya bahwa kau telah melarikannya dan menyembunyikannya dan ingin segera menikahi anak gadisnya. Lalu membiarkan keluarganya berfikir untuk mau menyetujuinya atau tidak.</p>
<p>Kalau keluarganya setuju, maka kau akan memulangkan anak gadisnya dan melakukan pernikahan. Tetapi kalau keluarganya tidak setuju maka kau harus menyerahkan anaknya kembali (walau dalam prosesnya sih agak susah).</p>
<p>Itulah merariq. Melarikan, menculik, dan menyembunyikannya dari ‘pemiliknya’.</p>
<p>Memang sedikit unik dan membingungkan. Kau pasti bertanya-tanya, “apakah orangtua atau keluarga sang gadis tidak akan marah dan melaporkannya pada polisi?”</p>
<p>Itulah yang kupikirkan sehingga membuatku menanyakannya pada niniq-ku (dalam bahasa Indonesia kakek). Dan akupun mendapatkan jawaban yang lebih mencengangkan, bahkan bagiku tak masuk akal.</p>
<p>Menurutnya, merariq adalah tradisi yang memang sudah dilakukan turun temurun. Merariq adalah bentuk penghormatan kepada orangtua dan keluarga si gadis, menunjukkan kalau anak gadis yang dimilikinya sangat berharga sehingga si pria yang menginginkannya harus ‘mencurinya’ terlebih dahulu. Dan konon katanya, kalau seorang gadis sudah merariq namun tidak melanjutkan ke pernikahan karena orangtuanya tidak menyetujui mereka, maka gadis itu tidak akan bisa menikah seumur hidupnya. Dan karena konon itulah jarang ada orangtua yang tidak menyetujui.</p>
<p>Menurutku itu agak tidak masuk akal, karena kalau kau memang ingin memberikan penghormatan yang layak, seharusnya kau meminta baik-baik si gadis dari orangtuanya, atau kita biasa sebut lamaran. Dan lagi, siapa yang tahu kalau perempuan, anak gadis yang dilarikan itu masih gadis setelah dipulangkan? Tidak ada yang bisa menjamin.</p>
<p>Walaupun ada juga yang menganggap itu romantis. Entah apanya yang romantis?? tapi kalau itu memang sudah menjadi tradisi dan kebudayaan mereka, mungkin tampaknya memang harus dipertahankan, ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berugak.com/blog/merariq-ketika-orang-sasak-menikah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi dan Arsitektur Rumah Adat Sasak</title>
		<link>http://berugak.com/blog/filosofi-dan-arsitektur-rumah-adat-sasak.html</link>
		<comments>http://berugak.com/blog/filosofi-dan-arsitektur-rumah-adat-sasak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 01:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amrinz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[adat sasak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://berugak.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, NTB. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, NTB. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit.</p>
<p>Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan, maka kemampuannya untuk tetap eksis sampai saat ini merupakan salah satu bukti bahwa suku ini mampu menjaga dan melestarikan tradisinya.</p>
<p>Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.</p>
<p>Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. <span id="more-9"></span></p>
<p>Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.</p>
<p>Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.</p>
<p>Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok.</p>
<p>Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.</p>
<p>Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali.</p>
<p>Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan lantai.</p>
<p>Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.</p>
<p>Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati.</p>
<p>Juga sebagai keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya.</p>
<p>Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.</p>
<p>Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat).</p>
<p>Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.</p>
<p>Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.</p>
<p>Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.</p>
<p>Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri.</p>
<p>Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.</p>
<p>Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan.</p>
<p>Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu rumah), dan sebaginya.</p>
<p>Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.</p>
<p><strong>Pemilihan Waktu dan Lokasi</strong><br />
Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat.</p>
<p>Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan Ramadlan.</p>
<p>Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.</p>
<p>Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug.</p>
<p>Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).</p>
<p>Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.</p>
<p><em>Seperti di kutip dari <strong><a title="Artikel aslinya di website wartawarga gunadharma" href="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/rumah-adat-sasak/">WartaWarga</a></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://berugak.com/blog/filosofi-dan-arsitektur-rumah-adat-sasak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
