Kesenian Sasak Gendang Lasuang Kayu

Kesenian yang tumbuh dan berkembang sekelompok masyarakat merupakan salah satu unsur yang menunjang keberadaan suatu budaya, kesenian tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu yang penting dari kebudayaan. Kesenian adalah merupakan kreatifitas dari kebudayaan itu sendiri ( Umar Khayam 1981 : 39).

Kesenian tradisional menjadi suatu sarana komunikasi diantara sesama warga masyarakat. Melalui penyajian kesenian maka anggota masyarakat dapat saling bertukar informasi. Bahkan disadari atau tidak, llewat penyajian suatu bentuk kesenian, sekelompok masyarakat akan dapat dikenal oleh sekelompok masyarakat lainnya.

Hal-hal seperti diatas memang dialami oleh masyarakat desa Sasak, terutama dalam menyajikan kesenian gandang Lasuang ini.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh salah seorang informan yang bernama Akosasi (65 tahun) mengatakan:

“Pada setiap bulan terang para pemain atau pendukung kesenian Gandang Lasuang saling berkumpul dan bergurau. Mereka melakukan kegiatan menghibur diri dengan memainkan kesenian Gendang Saluang.

Pada saat bulan terang ini merupakan hari istirahat bagi mereka terutama bagi mereka yang bermata pencaharian sebagai nelayan, karena bulan gelap digunakan mereka untuk hidup yaitu sebagai penangkap ikan.

Dan pada saat bulan terang inilah mereka saling bertukar pikiran dan kadang-kadang sampai mengungkapkan perasaan mereka dengan jalan bergurau.”

Menurut Zainal Hasan ( 49 tahun), kehadiran kesenian Gandang Lasuang di desa Sasak sejak 100 tahun yang lalu. Perkiraan ini didasarkan pada umur informan, karena informan mendengar kesenian Gandang Lasuang kira-kira baru berumur 7 tahun.

Sedangkan beberapa orang tua yang memainkan Gandang Lasuang waktu itu diperkirakan telah berumur lebih dari 45 tahun (wawancara), jadi untuk menentukan secara pasti tentang angkatan tahun kesenian ini tumbuh di desa Sasak ini sangatlah sulit, karena tidak di dukung oleh bukti dan saksi dari kesenian pertama kali membawanya.

Gandang Lasuang terbuat dari kayu nangka air yang mempunyai kualitas yang baik,yang mana kayu jenis ini akan sangat baik bila di jadiakan alat musik dari Gandang Lasuang ini yang akan mengeluarkan bunyi yang nyaring sesuai dengan apa yang diinginkan.

Lasuang dipakai dalam kesenian ini yang mempunyai 4 buah lubang dengan ukuran tinggi 21 cm, lebar 31 cm, dan garis tengah lubang 27 cm.

Pada waktu alat ini dimainkan leseng tersebut diletakkan diatas kelapa yang disusun hal ini berguna untuk menghasilkan bunyi yang lebuh nyaaring dan bagus.

Alu biasa disebut juga dengan pemukul leseng yang berjumlah 6 buah kayu, kayu yang digunakan sebagi alat pemukul lesung yang terbuat dari kayu kalek. Alu ini mempunyai ukuran panjang 4.5 cm dan cara memainkanya adalah:  lasuang diletakkan diatas daun kelapa yang disusun oleh para pemain secara tegak sedangkan alu yang dipegang ditangan dengan kedua telapak tangan. Untuk menghasilkan bunyi, alu dipukul pada lasuang persis seperti orang yang sedang menumbuk padi

Alat musik Gandang Lasuang merupakan salah satu bahagian dari musik tradisional Minangkabau yang tergolong pada jenis alat musik pukul dimana alat musik ini terbuat dari bahan yang sederhan. Akan tetapi memiliki arti tersendiri bagi masyarakat desa Sasak.

Dan apabila diperhatikan alat musik ini sama halnya dengan alat musik gendang yang lain, terdiri dari beberapa bagian, pertunjukan Gendang Lasuang dikonsep oleh masyarakat pendukungnya dengan melihat pada adat

Penampilan kesenian ini tidak terlepas dari fungsi yang hampir sama dengan alat musik tradisional lainya.

[Di edit dari: http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/15/kesenian-gandang-lasuang-kayu-dalam-kehidupan-masyarakat-di-desa-sasak/]

Leave a Reply